Saya tidak bisa mengingat kapan dan di mana pertama kali membaca informasi—berita atau feature, saya lupa—tentang Operation Raleigh. Apakah di perpustakaan sekolah (SMA), atau di rumah bibi saya—tempat dimana bisa menemukan banyak majalah—entahlah. Ingatan saya simpang-siur. Saat duduk di perguruan tinggi, yang bisa saya ingat bahwa saya pernah menemukan informasinya. Beberapa foto dokumentasinya bahkan masih terbayang dalam ingatan. Namun tetap, saya tidak bisa mengingat sumbernya.
Ya sudahlah, yang penting tidak pernah lupa bahwa Operation Raleigh telah mengusik perhatian dan minat saya. Betapa tidak, ekspedisi dengan misi ilmiah, bukan hanya menantang fisik dan mental kita, juga penguasaan bidang pengetahuan yang kita tekuni, termasuk kemampuan melakukan penelitian. Sejak saya mengenal ekspedisi ini, ada tiga pertanyaan yang sulit menemukan jawabannya. Selain karena saya tidak memiliki akses dan informasi kepada siapa saya harus bertanya, juga saya tidak tahu siapa orang yang tepat untuk menjawabnya. (Sebagai catatan, di tahun 1990-an awal, jangankan ponsel, internet pun belum ada. Di era itu, saya pun masih menggunakan mesin tik untuk membuat berbagai tugas kuliah). Pertanyaannya: (1) bagaimana caranya untuk bisa terlibat di Operation Raleigh; (2) bagaimana caranya mereka—beberapa orang Indonesia—memiliki akses menjadi peserta ekspedisi; dan (3) bagaimana pengelolaan sebuah ekspedisi ilmiah seperti itu? Saat itu, saya hanya bisa menduga-duga dan membuat jawaban-jawaban hipotetis.
Waktu terus berjalan. Di luar dugaan, kurang lebih tiga puluh lima tahun kemudian, ketika saya tengah mencari buku-buku tua/bekas seputar laporan penjelajahan—Camel Trophy; Trans-Africa Expedition; British Trans-Americas Expedition, dan pendakian Sir Edmund Hillary -Tenzing Norgay ke Everest—saya menemukan buku Operation Drake: Voyage of Discovery; Operation Drake: The Official Account of an Epic Adventure; dan Operation Raleigh: The Start of an Adventure. Keingintahuan saya kembali terusik hingga akhirnya mesin pencarian mengarahkan saya ke tayangan video berdurasi 6:35 menit bertajuk “Bukan Carita Parlente”: Kisah Operation Raleigh 10F di Taman Nasional Manusela“ (24 September 2021). Dalam video itu tampil ‘bu Mirza Kusrini memberikan paparan singkat buku berujudul Carita Parlente yang mengisahkan pengalaman dia bersama Jeni Shannaz mengikuti Operation Raleigh 1987 di Pulau Seram. Serius?! Pikir saya, tak pernah menduga.
Selanjutnya, berkat bantuan internet, saya pun berhasil menemukan dan memperoleh bukunya. Buku setebal 357 halaman itu (saya bahkan tidak pernah menduga setebal itu), nyaris membuat saya tidak bisa berkata-kata. Dengan cukup runut Mirza Kusrini dan Jeni Shannaz mengisahkan keterlibatan mereka dalam Operation Raleigh dari awal hingga akhir. Dari pontang-panting dan huruk-pikuk mengorganisir persiapan ekspedisi, hingga melakukan perjalanan ekspedisinya itu sendiri.
Buku ini sangat berarti, karena bisa menjawab semua pertanyaan saya, bahkan memberikan wawasan lebih. Dalam bukunya, Mirza dan Jeni bukan hanya mengisahkan sebuah perjalanan, juga membagikan pengalaman keterlibatan mereka dalam mempersiapkan dan mengelola sebuah ekspedisi dari titik awal hingga akhir. Ini adalah kisah back end yang bagi saya lebih menarik dan dibutuhkan, terutama oleh para penggiat luar ruangan. Seperti ketika saya jatuh cinta pada ajang Camel Trophy, saya lebih tertarik menelisik kisah-kisah di balik layarnya: bagaimana ajang itu dipersiapkan dari A hingga Z, bagaimana proses seleksinya, bagaimana pelatihannya, bagaimana pengelolaannya, dan bagaimana mengantisipasi setiap permasalahan yang muncul di lapangan, yang tidak sedikit di luar perkiraan.
Sudah saya pastikan, “Bukan Carita Parlente” memang bukan cerita bohong dan kisah para penipu (catatan: dalam percakapan sehari-hari di Ambon dan sekitarnya, kata “parlente” bermakna pembohong, pembual, dan omong kosong. Istilah ini kerap dikaitkan dengan orang yang bicaranya muluk-muluk atau penipu). Senang dan bersyukur memiliki kesempatan membacanya. Meski pertanyaan tidak akan pernah ada habisnya dan akan terus berkembang seiring kita terus berpikir, untuk saat ini paling tidak, saya sudah menemukan jawaban atas tiga pertanyaan saya yang “terlunta-lunta” selama tiga pluh lima tahun lamanya.
Buku ini penting untuk dibaca oleh kalian yang meminati dunia penjelajahan, ekspedisi ilmiah, dan mengerjakan proyek-proyek kemasyarakatan. Karena itu, sempatkanlah untuk membacanya.
