October 25, 2026

100% Pilihan: Tak ada Anak yang Minta Dilahirkan

“Menentukan cara menjalani hidup bisa berarti memilih untuk memiliki anak atau memilih hidup tanpa anak.”

— Kamalamani, 2016. Other than Mother: Choosing Childlessness with Life in Mind.

“Anak sudah berapa”, atau “anakmu sudah kelas berapa?” Pertanyaan ini kerap saya terima dari orang-orang yang sudah saya kenal lama maupun baru; kerabat maupun bukan. Mereka berpikir berdasarkan asumsi dan keyakinan bahwa orang yang sudah menikah pasti menginginkan anak, dan kemungkinan besar punya anak. Ketika dijawab “tidak punya, dan tidak ingin”, reaksinya hampir sama: “Kenapa?” Dengan kening berkerut. Dan biasanya dilanjutkan dengan petuah: “Ya, gak bisa begitu.” Ada juga yang kemudian bersikap “bijak” tidak pada tempatnya: “Sabar saja, belum dikasih tuhan. Nanti juga ada saatnya.” Atau “Belum rejekinya.” Rejeki?! Dan jika yang berkata adalah orang yang lebih tua, kalimat itu biasanya dibarengi dengan mengusap punggung saya, mengasihani.

Saya cenderung memilih diam. Pertama, saya kesulitan untuk mengomentari pandangan seseorang yang mengasumsikan isi kepala orang lain sama dengan isi kepalanya. Kedua, saya juga kesulitan untuk berdiskusi dengan seorang pronatalist— seseorang yang berkeyakinan bahwa memiliki anak adalah takdir yang sudah seharusnya, di mana kehadiran anak dianggap sebagai sumber kebahagiaan, dan perempuan adalah mesin produksi anak. [Tentang pronatalist, lihat antara lain Ellen Peck and Judith Senderowitz, eds., 1974. Pronatalism: The Myth of Mom and Apple Pie. Crowell]. Sebab rasionalitas tidak bisa didialogkan dengan keyakinan mutlak. Nasihat—tanpa diminta—untuk bersabar karena “belum dikasih tuhan,” sungguh absurd. Se-absurd pikiran yang mempertanyakan keputusan seseorang memilih tidak memiliki anak; atau menentang keputusan seseorang yang memilih tidak menikah. Keyakinan yang menyebutkan bahwa keinginan memiliki anak adalah “naluri dan kodrat” manusia, khususnya perempuan, adalah mitos. Dan pepatah yang meyebutkan “banyak anak, banyak rejeki” terang-benderang menyesatkan. “Banyak anak adalah banyak masalah,” kata mendiang ayah saya. Saya sendiri adalah anak tunggal.

Di sini, saya tidak akan membahas alasan saya dan pasangan saya memutuskan tidak memiliki anak (childfree). Saya hanya akan mengintip beberapa buku, artikel, catatan wawancara yang membahas itu, untuk melihat cakrawala yang labih luas bahwa keputusan memiliki dan tidak memiliki anak adalah pilihan bebas yang melekat pada setiap individu. Ya, siapa tahu dapat memantik kesadaran, bahwa dalam banyak hal, kita (sebenarnya) “tidak tahu, bahwa kita tidak tahu.” Dan dunia ini tak sesempit apa yang kita tahu.

Childfree dan Childless

Childfree dan Childless, apa bedanya? Sekilas kedua istilah itu seperti memiliki arti sama, sehingga sering dipertukarkan penggunaannya. Kecuali diberi tambahan penjelasan, kedua istilah itu pada dasarnya memiliki makna yang berbeda. Bisa dibilang, serupa tapi tak sama. [Jika pendapat saya keliru, silakan dikritisi]. Childfree adalah keputusan sadar seseoang atau pasangan untuk tidak memiliki anak dan terbebas dari berbagai hal yang terkait dengan anak, baik anak kandung maupun angkat/adopsi. Sementara childless adalah kondisi seseorang atau pasangan yang tidak memiliki anak karena faktor keadaan (by circumstance) di luar kendali manusia—masalah kesehatan, biologis, dll. Mereka yang childless tidak berarti tidak menginginkan anak. Karena itu, bila istilah childless dipertukarkan dengan childfree, biasanya diberi tambahan penjelasan “by choice” sehingga menjadi “childless by choice,” guna menegaskan bahwa ketiadaan anak dalam kehidupan seseorang atau pasangan bukan karena keadaan tertentu melainkan karena keputusan personal.

Namun demikian, belum ada pengertian baku yang disepakati bersama untuk kedua istilah itu. Berdasarkan penelusuran sementara saya, batasan keduanya relatif longgar, sehingga setiap pembahas bisa mempertukarkan penggunaannya, dan memberikan batasan masing-masing sesuai konteks bahasannya. Bahkan beberapa pembahas melakukan perluasan cakupan pengertiannya.

Fenomena Universal

Dianggap aneh, dituding emosi sesaat, dituduh menyimpang, dinilai egois dan tidak bertanggungjawab hingga dikasihani dan dinasihati adalah reaksi yang kerap diterima oleh seseorang atau pasangan yang mengambil keputusan tidak memiliki anak. Bahkan baru sebatas ide pun akan segera ditanggapi dengan reaksi sama. Berdasarkan pengalaman, nyaris tidak ada yang memberi respons logis, baik berupa pertanyaan maupun pernyataan dialogis yang bebas prasangka/bias.

Sebagian besar orang—setidaknya yang pernah saya temui—saat bertanya “mengapa”, tidak berangkat dari rasa ingin tahu atas gagasan yang mendasari sebuah keputusan, melainkan mempertanyakan “mengapa” dan bagaimana saya bisa membuat keputusan yang dianggap keliru—atas nama budaya dan keyakinan agama. Itu tercermin dari kalimat susulannya, seperti: “kamu aneh”; “egois, melarikan diri dari tanggung jawab”; “gak bisa begitu, kan kita harus punya keturunan dan penerus”; “itu melawan kodrat manusia”; “anak itu pemberian tuhan”; “dosa tau!”; “anak itu memberi kehangatan lho…”; “belum lengkap sebuah keluarga tanpa anak”; “untuk apa menikah kalau tidak menginginkan anak”; “sudah seharusnya punya anak, karena siapa lagi yang akan mengurus kita di masa tua”; dan seterusnya.

Walaupun saya tidak bisa memahami pikiran seperti itu, tetapi cara pikir itulah yang hidup dan mendominasi isi kepala sebagian besar orang di sekitar kita, dan di banyak masyarakat di dunia. Apakah itu merupakan respons sadar hasil perenungan dan pertimbangan logis, atau hanya mengikuti arus yang ada tanpa pernah bertanya mengapa arus itu yang harus dipilih. Seperti mengamini sederet doa yang kita sama sekali tidak tahu isi doanya.

Jika Anda berkesempatan membaca buku-buku yang membahas childfree/childless yang ditulis oleh mereka yang memilih tidak memiliki anak—lihat daftar bacaan di bawah—siapa pun dan dari mana pun dia berasal, Anda akan menemukan satu bagian yang mengisahkan pengalaman mereka menghadapi pertanyaan, penilaian, bias, dan penghakiman seperti di atas. Itu adalah fenomena universal yang masih terus dijaga dan dipelihara atas nama agama dan budaya. Satu hal yang tidak disadari dan tidak banyak orang tahu adalah alasan ekonomi-politik yang mendasarinya, yang bertujuan mendapatkan buruh murah. Semoga di lain waktu saya bisa mengulasnya secara khusus.

Adalah Pilihan

Sebagai sebuah gagasan, childfree mengemuka ke ruang publik pada 1969, ketika Stephanie Mills dalam pidato kelulusannya di Mills College, California mengemukakan keputusannya untuk tidak memiliki anak karena alasan ekologis dan masalah ledakan populasi. Dia menyatakan:

Fakta mengerikan bahwa kita bereproduksi begitu cepat…sebenarnya telah diprediksi hampir dua abad yang lalu… Pada 1798, Thomas Robert Malthus menyatakan, “Populasi, jika tidak dikendalikan, akan meningkat secara deret ukur (geometris). Sementara ketersediaan sumber penghidupan hanya meningkat secara deret hitung (aritmetis)…”

Salah satu aspek yang paling menyedihkan dari masalah ini adalah bahwa kita tidak mungkin lolos tanpa terkena dampaknya… Saya sangat sedih menyadari bahwa tindakan paling manusiawi yang bisa saya lakukan adalah dengan tidak memiliki anak sama sekali.

Sebagai seseorang yang tadinya mungkin bisa menjadi orang tua, saya bertanya pada diri sendiri: di dunia seperti apa anak-anak saya kelak akan tumbuh? Jawabannya adalah: “Dunia yang tidak indah, tidak bersih. Bahkan, dunia yang menyedihkan.”

Seiring berjalannya waktu, dan berdasarkan pengalamannya, Mills sampai pada kesimpulan bahwa (ternyata) dengan tidak memiliki anak, seseorang atau pasangan akan mendapatkan pengalaman hidup yang lebih luas. Dia mengatakan:

“Sangat menyenangkan tidak memiliki anak. Anda bebas mencurahkan diri pada hal-hal lain. Hidup Anda benar-benar milik Anda sendiri sepenuhnya.” (Peck, 1971).

Keputusan Mills dan banyak perempuan serta pasangan yang mengambil keputusan tidak memiliki anak adalah pilihan hidup. Sama halnya dengan seseorang atau pasangan yang memutuskan memiliki anak. Keputusan memiliki anak atau tidak, menurut Kamalamani—penulis Other than Mother: Choosing Childlessness with Life in Mind— pada prinsipnya adalah soal keputusan dalam “memilih kehidupan”. Karena itu, tidak bisa dipaksakan dan tidak bisa saling memaksakan.

Ada anggapan bahwa mereka yang memilih tidak memiliki anak karena tidak menyukai anak-anak. Benarkah? Sama sekali tidak. Ada banyak cara untuk peduli dan mencintai anak-anak tanpa harus memilikinya. Amy Blackstone—penulis buku Childfree by Choice: The Movement Redefining Family and Creating a New Age of Independence—misalnya. Sebagai orang yang memutuskan childfree dia biasa dan mampu mengasuh keponakannya sejak awal kelahirannya. Dia bahkan sudah menjadi pengasuh anak bersertifikat sejak usia sebelas tahun, pernah bekerja sebagai pengasuh, dan ketika di sekolah menengah atas sempat menjadi kepala pengelola tempat penitipan anak di gereja.

Apakah pasangan yang memutuskan tidak memiliki anak tidak utuh sebagai sebuah keluarga dan hidup dalam kehampaan? Anggapan itu keliru. Kami—saya dan pasangan saya—tidak pernah merasa kesepian karena tidak memiliki anak. Sebaliknya, kami bisa melakukan apa yang kami minati dengan senang. Kami bisa berbincang panjang dari hal-hal ringan yang sedang ramai dibicarakan di media sosial hingga diskusi serius masalah pemanasan global, circular economy, digital trend, usaha mikro dan kecil, masalah pendidikan hingga ketimpangan sosial. Dan meski secara keseluruhan preferensi musik kami berbeda, ada satu genre musik yang bisa menyatukan kami: jazz dan funk. Dalam beberapa kesempatan kami pergi bersama untuk menikmatinya di jazz festival dan jazz club.

Pasangan saya adalah seorang Army—sebutan untuk fans BTS (Bangtan Sonyeondan (방탄소년단). Dia bisa dan biasa pergi dengan leluasa, sendiri atau bersama kawannya untuk menonton rangkaian tour band favoritnya di dalam dan luar negeri. Dia juga biasa dan bisa seharian mewarnai gambar sambil menonton drama Korea tanpa ada yang mengusik. Atau menemani ponakan melakukan berbagai aktivitas, mulai dari membaca, menggambar, bermain alat musik hingga crafting. Di luar itu, dia biasa pergi jogging dan hang out bersama kawan-kawannya untuk sekadar berbagi cerita ringan sambil minum kopi atau wine, atau menemani ponakan yang lebih besar menonton konser musik.

Begitu pun dengan saya. Jika mood saya sedang ke musik, saya bisa mengisi setiap waktu—di sela-sela mengurus usaha katering kopi (Kopina.id)—dengan bermain gitar, bass, keyboards, menabuh drum atau mengulang-ulang drum rudiment sambil menunggu kontak pelanggan menyala. Kegiatan itu kerap saya lakukan bersama seorang ponakan sejak dia berusia 4 tahun. Selain main alat musik, saya biasa bermain diecast dan action figure dengannya. Dan jika sedang dilanda rasa ingin tahu atas topik tertentu, saya akan mencari dan membaca sumber pustakanya. Topik-topik kajian sosial tentang fashion, sneaker, budaya, digital, ekonomi-politik dan kisah-kisah petualangan seperti Camel Trophy, British Trans-Americas Expedition, berbagai ekspedisi ilmiah seperti Operation Drake dan Operation Raleigh, serta catatan perjalanan dunia luar ruangan, adalah hal-hal yang mengundang rasa ingin tahu saya. Tentang sneaker dan Camel Trophy, saya bahkan membuat website-nya—Sneakerpedia.id, Cameltrophy.id.

Elen Peck, penulis The Baby Trap dan Pronatalism: The Myth of Mom and Apple Pie; Alie Benge, Lil O’Brien, dan Kathryn van Beek, editor Otherhood: Essays on being Childless, Childfree and Child-adjacent; Laura S. Scott penulis Two is Enough: A Couple’s Guide to Living Childless by Choice; Marian Faux, penulis Childless by Choice: Choosing Childlessness in the 80’s; Caroline Magennis, penulis Harpy: A Manifesto for Childfree Women; dan Kamalamani, penulis Other than Mother: Choosing Childlessness with Life in Mind, untuk menyebutkan sebagian kecil, memiliki cerita dan pengalaman serupa dengan keseharian yang kami lewati. Pilihan tidak memiliki anak sama sekali tidak pernah menjadi bencana pembawa hampa seperti dugaan banyak orang.

Tentu saja perjalanan kehidupan saya dan pasangan saya tidak seperti di negeri-negeri dongeng yang indah tak terkira selamanya. Dengan kadar yang berbeda-beda, setiap orang dan pasangannya tentu pernah mengalami pasang-surut menjalani kehidupan. Itu tidak bisa dihindari. Namun, kami tahu persis, situasi surut yang kami hadapi sama sekali bukan karena kami tidak memiliki anak. Justru sebaliknya. Ketika kami menghadapi kenyataan kesulitan ekonomi yang cukup parah, kami tidak bisa membayangkan seandainya di saat yang sama kami harus membayar biaya sekolah anak dan berbagai kebutuhan yang menyertainya, yang mutlak dipenuhi. Sungguh tidak adil bukan bila kita membatasi kesempatan pendidikan seorang anak karena alasan tidak memiliki kemampuan untuk membiayainya. Pepatah Sunda yang menyebutkan bahwa “budak mah aya milikna”—seorang anak senantiasa membawa rejekinya masing-masing ketika lahir ke dunia—sama sekali tak terbukti, selain ungkapan menenangkan diri menghadapi beratnya kenyataan hidup yang sebenarnya bisa dihindari. Ya, 100% bisa dihindari! Tidak ada anak yang minta dilahirkan, bukan?!

Semoga tulisan ini bisa memantik pembicaran yang selama ini mungkin hanya dipendam dan belum menemukan celah untuk mengungkap, memikirkan, dan mendiskusikannya lebih lanjut tanpa prasangka.


Catatan

Pada 2015, menurut Menteri Sosial Indonesia, jumlah anak terlantar di Indonesia mencapai 4,1 juta orang (Antara, 15/05/2015). Menanggapi masalah tersebut, Menteri Sosial periode 2024–2018, Khofifah Indar Parawansa mengatakan, agar tidak terjadi penelantaran anak, maka “harus diperkuat pelatihan pranikah agar pasangan suami istri lebih mengetahui tanggung jawab sebagai orang tua, selain itu juga punya program yang jelas untuk keluarga dan anak. Para orang tua harus dipersiapkan sebelum menikah agar lebih bertanggung jawab.”

Menurut saya, anjuran itu tidak cukup sekaligus tidak tepat. Sebab, mengasumsikan setiap pasangan yang mau menikah pasti menginginkan anak jelas keliru. Asumsi itu menampikan kenyataan bahwa tidak semua orang yang menikah menginginkan dan berencana memiliki anak. Tidak semua orang yang menikah berpikir bahwa memiliki anak adalah keniscayaan dari sebuah pernikahan. Cara berpikir itu jelas tidak tepat—baik di tataran gagasan maupun kenyataan—karena keputusan tidak memiliki anak adalah hak setiap individu seperti halnya hak setiap individu untuk memiliki anak.

Oleh sebab itu, akan lebih bermakna solutif bila saran yang disampaikan adalah: “Bila Anda memutuskan untuk menikah, pikirkan dengan matang, apakah setelah menikah Anda benar-benar ingin memiliki anak dan memikul semua konsekuensi yang menyertainya? Jika tidak, maka tidak memiliki anak adalah juga pilihan yang bisa Anda ambil selain memiliki anak.”


Bahan Bacaan

Benge, Alie; O’Brien, Lil and van Beek, Kathryn (Editors). 2024. Otherhood: Essays on being Childless, Childfree and Child-adjacent. Massey University Press.

Blackstone, Amy. 2019. Childfree by Choice: The Movement Redefining Family and Creating a New Age of Independence. Dutton.

Daum, Meghan. 2015. Selfish, Shallow, and Self-Absorbed: Sixteen Writers on the Decision Not to Have Kids. Picador.

Defago, Nicki. 2005. Child Free and Loving It. Fusion Press.

Faux, Marian. 1984. Childless by Choice: Choosing Childlessness in the 80’s. Anchor Press.

Heffington, Peggy O’Donnell. 2023. Without Children: The Long History of Not Being a Mother. Seal Press.

Hymas, Lisa. “Say it loud — I’m childfree and I’m proud”. Grist, March 31, 2010.

Hymas, Lisa. “How green are the ‘childless by choice’?” Grist, May 17, 2010

Kamalamani, 2016. Other than Mother: Choosing Childlessness with Life in Mind. Earth Books.

Louie, Nicole. 2024. Others Like Me: The Life of Women without Children. Anansi Press Inc.

Magennis, Caroline. 2024. Harpy: A Manifesto fo Childfree Women. Icon Book Ltd.

Mills, Stephanie. “The Future Is a Cruel Hoax”, dalam Peck, Ellen and Senderowitz, Judith (eds.). 1974. Pronatalism: The Myth of Mom and Apple Pie,  Crowell, 1974.

Peck, Ellen. 1971. The Baby Trap. Pinnacle Books.

Scott, Laura S. 2009. Two Is Enough: A Couple’s Guide to Living Childless by Choice. Seal Press.

Thornley, Davinia (Ed.) 2022. Childfree Across the Disciplines : Academic and Activist Perspectives on Not Choosing Children. Rutgers University Press.

Warrington, Ruby. 2023. Women without Kids: The Revolutionary Rise of an Unsung Sisterhood. Sounds True Boulder.

Ilustrasi: AI.

Kopina Katering Kopi

Camel Trophy Mini Museum

Previous Story

Taman Nasional dan Tragedy of the Commons