Naik-naik ke Puncak Gunung – Bagian 1
Lonceng berbunyi. Saya bergegas menyelinap keluar kelas sebelum guru mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) masuk. Tak lama berselang suasana sekolah pun hening. Mereka yang bertahan di masing-masing kelas sudah konsentrasi penuh mencerna berbagai mata pelajaran. Ada yang berguna, ada yang tidak. Tentu saja! Setelah saya belajar mandiri selepas SMA, baru saya sadari tidak sedikit yang keliru.
Saya tidak berhasrat berada di kelas jika harus menelan hal-hal yang tidak bisa dikritisi. Dan saya bosan berdebat dengan guru yang selalu mempropagandakan “kuning” sebagai warna tunggal. Saya memilih berada di sudut perpustakaan membaca rubrik petualangan—umumnya pendakian—di majalah Sportif. Majalah yang lahir pada 1981 itu terbit seminggu sekali. Seminggu sekali itulah saya berkunjung ke perpustakaan.
Sumber bacaan lain yang selalu saya baca adalah rubrik petualangan di majalah Hai. Tidak seperti di Sportif, di Hai semua rubrik saya baca dari depan hingga belakang. Mulai dari liputan berbagai kegiatan di berbagai SMA; sejarah musik rock hingga cerita serial Catatan Si Boy, Lupus, dan Ayang. Kurang lebih 1-1.5 jam saya melahap semua halamannya.
Ketika saya duduk di bangku SMA bisa dibilang cukup intens mengikuti perkembangan kepetualangan. Selain dari majalah, sumber bacaan lain adalah koran, meskipun tidak rutin. Sayangnya, buku sulit didapat. Kalaupun ada, mahal. Saya pernah membeli satu buku tentang rock climbing—judul persisnya lupa—sekitar tahun 1986/1987. Harganya waktu itu 5.000 rupiah—1 dollar masih sekitar 1.000—1.200 rupiah. Nilai 5.000 rupiah saat itu setara uang harian sekolah saya selama sebulan.
Memasuki perguruan tinggi ketertarikan dan perhatian saya terhadap dunia kepetualangan terus berlanjut hingga bertemu dengan konsep ekspedisi Seven Summits. Gampangannya, itu adalah ekspedisi pendakian ke tujuh puncak gunung tertinggi di tujuh benua—Amerika Utara, Amerika Selatan, Eropa, Asia, Afrika, Antartika, Oceania/Australia. Di Indonesia, adalah Norman Edwin (Mapala UI) yang mengusung misi menggapai ketujuh puncak itu dalam proyek yang diberi nama Seven Summits Expedition Mapala Universitas Indonesia 1990—1994 (lihat Ganezh, 2006). Kebetulan Mapala UI sendiri sudah pernah mendaki Carstensz Pyriamid/Puncak Jaya pada (1972, 1976 dan 1981); Kilimajaro (1985); Denali/McKinley (1989). Jadi, jika menggunakan daftar tujuh gunung yang dibuat Reinhold Messner—Messner list of Seven Summits—Mapala UI tinggal melanjutkan pendakian ke empat puncak selanjutnya: Everest, Aconcagua, Vinson, dan Elbrus.
Sejak Seven Summits digaungkan pada 1990, ada dua puncak yang tercatat berhasil dicapai Mapala UI—Norman Edwin dan kawan-kawan—: Kilimanjaro (1990), dan Elbrus (1990). Namun, ketika mencoba meraih puncak gunung tertinggi di Amerika Latin, Aconcagua di Argentina pada 1992, misinya kandas. Dia dan rekannya, Didiek Samsu, meninggal dalam upaya itu. Ekspedisi terhenti, dan baru dilanjutkan lagi pada 2018 dengan capaian puncak Vinson Massif di Antartika (2018). Namun, hingga tulisan ini dibuat belum ada kejelasan kapan Mapala UI akan menyelesaikan agenda Seven Summits-nya ke Everest.
Dua kelompok lain yang juga mengusung agenda ekspedisi Seven Summits adalah Mahitala (Mahasiswa Parahyangan Pecinta Alam) Universitas Katholik Parahyangan—Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (ISSEMU); dan The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (WISSEMU)—dan Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri—Indonesia 7 Summits Expedition. Keduanya berbasis di Bandung, dan keduanya berhasil menyelesaikan 7 rangkaian pendakian hingga ke puncak dunia, Everest. Kelompok lain yang meskipun tidak secara khusus mengagendakan ekspedisi Seven Summits adalah Stapala Politeknik Keuangan Negara STAN. Kelompok ini sudah berhasil mendaki empat gunung dalam daftar Seven Summits: Puncak Jaya, Elbrus, Kilimanjaro, dan Aconcagua.
Dick Bass dan Seven Summits Fever
Diletakkan dalam konteks komersialisasi pendakian, fenomena Seven Summits sangat menarik dan mimiliki arti cukup penting. Mengapa? Gagasan yang dicetuskan oleh seorang yang bukan berasal dari kalangan pendaki gunung profesional, apalagi pendaki “elite” itu secara tidak sengaja telah memicu industri pemandu pendakian Everest (Cockrell, 2024). Dia adalah Richard Daniel Bass—biasa disapa Dick Bass—seorang pengusaha asal Texas yang bukan hanya memiliki sumberdaya ekonomi dan koneksi, juga kerap memiliki ide-ide “nekat”. Salah satunya adalah keinginannya mendaki Everest. Di luar dugaan, dia berhasil melakukannya pada 1985! Dia adalah orang ke-174 yang berhasil menginjakkan kakinya di puncak Everest dalam usia 55 tahun, dan menjadi orang pertama yang berhasil menyelesaikan pendakian Seven Summits dalam rentang waktu empat tahun [lihat buku yang ditulis Dick Bass bersama Frank Wells, Rick Ridgeway, Seven Summit (1988)].
“Ini akan memicu revolusi di ruang-ruang rapat eksekutif AS,” tulis Chris Bonington (pendaki Inggris), saat menyaksikan banyaknya eksekutif yang mengikuti Bass berangkat melakukan petualangan ke tempat-tempat jauh (Ibid). Benar adanya. Setelah keberhasilan Bass, Seven Summits menjadi bahan perbincangan hangat. Gagasan itu berhasil memikat imajinasi orang-orang yang gelisah dan haus petualangan, tetapi minim pengetahuan pendakian gunung, kata Cockrell (Ibid). Menurut dia, orang-orang hanya berpikir sederhana: Jika Dick Bass bisa melakukannya, saya pun pasti bisa!
Di sisi lain, para pendaki gunung serius menanggapinya mulai dari yang bersikap acuh tak acuh hingga mencemooh. Eric Simonson yang pernah mendampingi Bass dalam ekspedisi Whittaker ke Everest (1982) misalnya, menganggap Seven Summits sebagai hal konyol dan gimick semata. “Sederhananya,” kata Simonson, “sebagian besar gunung itu terlalu mudah didaki,” (Cockrell, Ibid). Kritik senada masih bisa kita dengar hingga kini, terlebih setelah Artyom Kuimov dan kawan-kawannya berhasil mencapai puncak Elbrus dengan mengendarai quad bike.
Meski di kalangan pendaki profesional gagasan Bass tidak mendapatkan sambutan antusias, tetapi di mata Harry Johnson, seorang wirausahawan dari Alaska, ide itu dinilai memiliki potensi bisnis menguntungkan. Melalui perusahaannya Genet Expeditions—yang dibelinya dari janda Ray Genet, seorang pendaki yang meninggal di Everest pada 1979—mulailah dia memasarkan pemanduan pendakian Seven Summits untuk kalangan yang oleh para pemandu pendakian disebut “Sunday mountaineers”—yaitu orang-orang yang lebih tertarik untuk sekadar mencapai puncak daripada mempelajari keterampilan mendaki yang sesungguhnya (Cockrell, Ibid). [Catatan: kritik terhadap kecenderungan ini lihat antara lain Jon Krakauer, 1997. Into Thin Air: A Personal Account of the Everest Disaster]
Seiring semakin meningkatkan ketertarikan orang untuk menggapai Seven Summits, khususnya puncak Everest—karena dianggap paling bergengsi—bermunculanlah operator-operator pemanduan pendakian ke Seven Summits dan 14 Summits—gunung di ketinggian di atas 8.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) di gugusan pegunungan Himalaya dan Karakoram. Saat ini ada puluhan perusahaan operator pemanduan yang bisa diakses umum. Antara lain, Adventure Consultans, Mountain Madness, Alpine Ascents, Climbing the Seven Summits (CTSS), Madison Mountaineering, Furtenbach Adventures, Alpenglow Expeditions, International Mountain Guides (IMG), Imagine Nepal, Seven Summit Treks, 8K Expeditions, 14 Peaks Expedition, dan Mountain Experience—operator yang memandu tim Wanadri dan Mahitala dalam pendakian Everest. (Catatan: informasi panduan ekspedisi Everest bisa dilihat di sini, dan untuk panduan pendakian secara global di sini)
Sejak gagasan Seven Summits merebak yang disusul dengan bermunculannya perusahaan pemanduan pendakian, praktis siapa pun memiliki kesempatan untuk mendaki gunung-gunung yang sebelumnya hanya bisa diakses oleh pendaki-pendaki profesional. Apalagi sekarang, di saat penyedia jasa pemanduan pendakian dengan dukungan peralatan dan teknologi untuk kepentingan pendakian sudah berkembang pesat. Mendaki Everest menjadi lebih accessible di banding era Edmund Hillary—Tenzing Norgay (1953) dan George Leigh Mallory—Andrew Comyn Irvine (1924). Kini, para pemilik perusahaan, kalangan CEO, eksekutif muda hingga sosialita sudah banyak yang berhasil mencapai puncak dunia.
Pertanyaannya kini, di saat para “Sunday mountaineers” mampu mendaki Seven Summit dan gunung-gunung di atas 8.000 mdpl, apakah keberhasilan menggapai puncak gunung tertinggi di dunia (Peak XV/Everest) masih bisa dianggap sebagai capaian luar biasa yang “layak” diglorifikasi? Bisa ya bisa tidak, bergantung dari sisi mana kita melihat. Yang jelas apapun jawabannya, tidak ada yang salah maupun benar. Silakan direnungkan.
Sumber Bacaan
Bass, Dick; Wells, Frank, Ridgeway, Rick, 1988. Seven Summits. Grand Central Publishing.
Cockrell, Will. 2024. Everest, Inc.: The Renegades and Rogues Who Built an Industry at the Top of the World. Gallery Books.
Crockett, Zachary. “How Mount Everest Became a Multimillion-Dollar Business.” The Hustle, 01-10-2024.
Ganezh, 2006. Jejak Sang Beruang Gunung: Hidup dan Petualangan Norman Edwin. Yogyakarta: Andi.
Gilbert, Sofie. “How Crowded Has Mount Everest Become?” Visual Capitalist, 4-10-2026.
Godwin, Richard. “Death on K2: The Fatal Race up the World’s Toughest Mountain.” The Telegraph, 03-10-2026
Krakauer, Jon. 1997. Into Thin Air: A Personal Account of the Everest Disaster. Anchor Books.
Penson, Blake. “How Much Does It Cost to Climb Mt Everest in 2026?” Expedreview, 20-08-2026.
Penson, Blake. “The Deadly Obsession with Everest.“ Expedreview, 24-12-2024.
