October 26, 2026

Adidas Top Ten

Agus—bukan nama sebenarnya—memarkir sepeda motornya di warung rokok samping sekolah. Kedatangannya disambut hangat kawan-kawannya. Inilah kelompok senior anak-anak siswa sekolah menengah pertama (SMP) yang biasa petentengan di sekitar sekolah. Inilah kelompok “penguasa sekolah” yang sudah kebut-kebutan dengan sepeda motor di usia yang belum saatnya untuk itu. Mereka selalu datang ke sekolah, tetapi warung rokok di samping sekolah tampaknya jauh lebih menarik untuk disinggahi daripada duduk damai di dalam kelas. Dan bila hari sabtu tiba—tahun 1980-an belum ada libur Sabtu—bukan hanya aroma asap rokok yang akan tercium di sekitar mereka, juga bau alkohol. Lengkap sudah kemeriahan di sekitar sebuah sekolah di pinggiran kota Bandung itu.

Saya bukan kelompok mereka. Sebagai anak kelas satu, saya dan kawan-kawan seangkatan adalah out-group yang kerap menjadi sasaran empuk pemalakan—dimintai uang dengan paksa—nyaris di setiap hari Sabtu. Selain palak, istilah yang lazim dipakai untuk tindakan serupa adalah “kompas”. Mereka dua tahun di atas saya. Jangan pernah memandang muka mereka secara langsung bila tidak ingin ada masalah, demikian bisik-bisik peringatan yang beredar dari mulut ke mulut di dalam kelas. Ya, saya catat itu sebagai pengetahuan untuk menjaga keselamatan.

Namun begitu, saya tetap memperhatikan mereka. Ada yang menarik dari gerombolan ini, dan saya tak bisa mengabaikannya. Apa itu? Sneaker! Ya, sneaker yang mereka kenakan! Adidas Top Ten High yang dikenakan Agus adalah desain terbaik di mata saya kala itu. Selain Adidas, Puma, Fila, dan Lotto, adalah brand–brand global yang mendominasi di banyak kaki. Nike? Seingat saya cuma ada satu anak yang mengenakannya. Saya bahkan tidak ingat modelnya. Sneaker merek lokal yang teruji kekuatannya, dan sudah menjadi semacam “sepatu resmi sekolah” adalah Warrior. Saya kagum dengan kekuatannya. Luar biasa! Namun, dengan desain yang mengikuti Chuck Taylor All Star dalam versi bulky tidak terlalu mengusik saya. Mungkin juga karena hampir setengah siswa di sekolah kami mengenakannya.

Agus, yang di kelas tiga SMP sudah mengenakan Adidas Top Ten dan mengendarai Binter Merzy/KZ200—meski usianya belum layak memakainya—adalah satu dari sekian anak yang memiliki latar belakang ekonomi keluarga berkecukupan. Penandanya mudah dikenali: rumah Agus terletak di pinggir jalan raya utama dengan halaman luas. Ukuran rumahnya besar dengan gaya Indische Empire. Kemungkinan merupakan rumah turun temurun. Di musim panen, teras rumahnya selalu dipenuhi karung-karung padi ukuran besar, dan halaman rumahnya beralih fungsi menjadi tempat menjemur pagi. Di musim-musim inilah saya sering melihat banyak buruh tani laki-laki dan perempuan bekerja menjemur dan mengemas padi. Karena itu, tidak sulit untuk menebak bahwa orang tua Agus adalah pemilik lahan pertanian sawah yang luas. Tidak heran juga bila sepatu dan barang-barang yang dikenakannya pun berbeda dengan yang saya kenakan dan kebanyakan siswa di sekolah kami.

Di luar kelompok Agus, ada kelompok lain yang kerap datang ke sekolah. Terutama bila ada acara-acara peringatan tertentu. Biasanya mereka datang—dengan bangga— mengenakan seragam sekolah mereka—SMA swasta—yang dianggap mentereng kala itu. Bagus tidaknya kualitas pendidikan di sekolah itu, entahlah, yang jelas mahal. Saya tidak tahu persis apa alasan mereka datang kembali ke sekolah. Hendak bernostalgia atau pamer “siapa saya”, entahlah.

Tidak seperti kelompoknya Agus yang isinya laki-laki semua, kelompok ini terdiri dari laki dan perempuan. Menariknya, mereka mengenakan sneaker yang sama dengan Agus. Anak laki-lakinya mengenakan Adidas Top Ten versi high, sementara anak perempuannya memakai versi low. Ada kecenderungan versi high hanya dikenakan oleh laki-laki, dan low oleh perempuan. Saat itu tentu saja saya hanya melihatnya sebagai “ya memang begitu adanya” (taken for granted), karena tidak memiliki pengetahuan bahwa model sepatu dan pakaian sudah mengalami genderisasi (genderization) [Studi tentang sneaker dan gender, baca antara alain Yuniya Kawamura, 2016. Sneakers: Fashion, Gender and Subculture, Bloomsbury].

Berbeda dengan Agus yang cenderung berpakaian acak-acakan, kelompok ini lebih rapi, bersih, tidak merokok dan sangat percaya diri. Perbedaan lainnya, Agus berasal dari keluarga tuan tanah, sementara latar belakang orang tua mereka kebanyakan adalah pegawai. Saya mengetahui itu, karena salah satu adiknya seangkatan dengan saya. Mereka tinggal di kompleks perumahan pegawai pemerintah tak jauh dari tempat saya tinggal.

Ah, lagi-lagi Adidas Top Ten, pikir saya. Warna putih dengan tiga strip biru di bagian heel patch dan side panel, serta warna biru dan aksen garis merah di bagaian upper itu memang luar biasa walaupun bila diperhatikan sekarang sebenarnya biasa saja meski tak sebiasa Nike Air Jordan 1. Namun, model sepatu yang hingga kini belum pernah saya miliki itu tetap melekat dalam ingatan dan memiliki tempat istimewa, karena terhubung dengan berbagai peristiwa di masa lalu. Sepatu itu selalu memantik ingatan saya pada masa-masa remaja awal. Masa-masa pembuktian diri; mulai memperhatikan lawan jenis dan “iseng-iseng” pacaran meski hanya berumur seminggu lebih sehari; mulai nge-band; mulai berani menentang guru dan mengemukakan pendapat bahwa pelajaran agama itu tidak penting; terang-terangan membangkang aturan sekolah; berkelahi satu lawan satu—bukan tawuran—lebih dari sekali, hingga diamcam dikenai sanksi dikeluarkan dari sekolah.

Ya, semua ingatan itu berhamburan keluar setiap kali saya melihat gambar Adidas Top Ten. Bahkan saya masih mengingat seorang alumni perempuan berkacama yang datang ke sekolah mengenakan Adidas Top Ten Low dan kalung spidol marker ukuran besar berwarna hitam. Hingga kini saya masih mengingatnya sebagai perempuan unik, menarik dan percaya diri. Dimanakah dia sekarang?

Kopina Katering Kopi

Camel Trophy Mini Museum

Previous Story

100% Pilihan: Tak ada Anak yang Minta Dilahirkan