October 16, 2026

Kegiatan Luar Ruangan, Media Sosial dan Masalah Lingkungan

Pengalaman pertama saya pergi berkemah (camping) ketika duduk di bangku sekolah dasar (SD) kelas empat sebagai anggota Pramuka Siaga. Sekitar tahun 1979. Usia saya kurang lebih 9,5 tahun. Itu adalah pengalaman pertama tinggal di alam terbuka yang (awalnya) tidak menyenangkan.

Tenda kami terbuat dari kain tembus air (bukan waterproof) bekas karung terigu yang dijahit sambung. Hujan seolah tahu itu, dan menguji kami. Semburan airnya sudah menyambut penuh suka cita sejak kami masih berjalan menuju area perkemahan. Jalan tanah keras berubah menjadi pijakan yang sangat licin, sementara hari terus merayap gelap. Sungguh penderitaan!

Namun, ketidaknyamanan yang membuat dua orang kawan kami memutuskan kembali ke rumah itu segera menjadi pengalaman menyenangkan setelah keesokan harinya berhasil mendirikan tenda bebas bocor, bebas banjir. Akhirnya kami berhasil melewati tiga hari dua malam hidup di alam terbuka dengan suka cita. Itulah pengalaman pertama yang membuat saya selalu ingin kembali berkemah. Lagi dan lagi.

Sejak itu, liburan adalah berkemah. Kebiasaan itu terus berlanjut hingga saya duduk di bangku SMP. Memasuki masa SMA dan setelahnya, lebih banyak melakukan perjalanan dinamis ke gunung-hutan. Perjalanan terlama yang pernah saya lakukan 25 hari. Jarak tempuh terjauh sekitar 120 kilometer. Rutinitas semacam itu dilakukan hampir setiap tahun dalam rentang waktu 1992—1998. Namun, selepas kuliah, dengan berbagai alasan, saya tidak pernah hiking maupun mendaki gunung lagi hingga keinginan itu muncul kembali di 2026.

Namun, setelah melihat begitu besarnya minat orang berkegiatan di alam terbuka—terutama mendaki gunung—dan keramaian yang ditimbulkannya, saya harus membuat rencana yang agak berbeda dengan kecenderungan itu. Pertama, saya tidak akan mendaki gunung-gunung yang tengah populer dikunjungi banyak orang. Kedua, saya akan hiking ke kawasan gunung-hutan yang ada di sekitar kota kelahiran saya: Bandung. Ketiga, saya harus membuat agenda kegiatan spesifik selama hiking selain hiking itu sendiri.

Agenda sementara yang saya pikirkan adalah (1) melakukan pengamatan dan membuat foto—situasi dan kondisi—setiap kawasan yang saya lalui; dan (2) mewawancari orang-orang yang berkegiatan di alam terbuka yang kebetulan saya temui dalam perjalanan. Saya ingin tahu alasan mereka berkegiatan di luar ruangan—hiking, camping, mendaki gunung—termasuk bekal pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki, serta peralatan yang mereka bawa dan gunakan. Saya ingin mendapatkan gambaran awal hubungan antara ekonomi rekreasi luar ruangan (outdoor recreation economy/ORE), media sosial, industri peralatan luar ruangan, dan masalah lingkungan yang menyertainya. Hal ini menarik untuk ditelisik.

Pertama, maraknya orang berkegiatan di luar ruangan erat kaitannya dengan maraknya penggunaan media sosial sebagai sarana pemenuhan kebutuhan (dasar) untuk menampilkan diri (Diefenbach and Christoforakos, 2017), dan dorongan untuk mendokumentasikan pencapaian kita secara nyata dan berwarna (Storr, 2018). [Studi tentang media sosial dan rekreasi luar ruangan, lihat antara lain Hung, Wei-Tien and Liou, Gwo-Bao (2023); Wichman (2024); Bratrut (2025); dan Andkjær and Larsen (2025)].

Kedua, meningkatnya minat orang berkegiatan di luar ruangan paralel dengan berbagai upaya pemasaran yang gencar dilakukan berbagai brand luar ruangan. Pada titik inilah slogan-slogan pencitraan seperti “Good for Our Health”; “Great for our Local Economies”; “A Life Outdoors is a Life Well Lived”; “Tested Tough”; “The Outside is Inside Everything We Make”; “Live Your Adventure” dan seterusnya menemukan sasaran tembaknya.

Dengan demikian, ketiga, sangat beralasan bila kalangan industrial peralatan luar ruangan menggadang-gadang outdoor recreation economy sebagai “powerful economy engine”—lihat laporan Outdoor Industry Association. Namun, outdoor recreation economy yang diasumsikan dapat memberi berbagai manfaat sosial dan lingkungan, bahkan bisa menjadi fondasi bagi komunitas pedesaan yang maju dan sejahtera di masa mendatang masih perlu ditinjau lagi (lihat misalnya Tomasz Falkowski, 2025).

Sebab, keempat, jika ditelisik dengan seksama, kontribusi ekonomi sektor rekreasi luar ruangan sesungguhnya bukan dari rekreasinya itu sendiri, melainkan dari industri “pendukung”-nya—restoran, penginapan, perbelanjaan, transportasi, dan konstruksi (MacDonell, 2023). Sebagai contoh, orang yang mendaki gunung Gede dikenai tiket 72.000 rupiah per pendakian—dua hari satu malam. Nilai itu sangat kecil dibanding harga peralatan dan perlengkapan kegiatan luar ruangan. Biaya tersebut  belum termasuk transportasi, akomodasi, konsumsi dan hal-hal lain yang tidak berkaitan langsung dengan pendakiannya itu sendiri. Seperti dicatat MacDonell (2023) nilai ekonomi sektor ini—outdoor recreation economy—pada dasarnya/terutama berasal dari penjualan barang ritel yang terbentang dari kelas low, middle hingga top budget.

Dan terakhir, kelima, walaupun brand-brand luar ruangan mengklaim memiliki kepedulian dan terus mendorong upaya-upaya “pelestarian alam/lingkungan”, apakah material dan rantai pasok barang-barang yang mereka produksi sudah berjalan dalam koridor berkelanjutan? Ada banyak kasus yang menunjukkan sebaliknya (lihat MacDonell, 2023; dan Ross Reid (Nerdy About Nature), 2025). Persoalan ini tidak berbeda dengan persoalan serupa di industri fashion (lihat Sadikin, 2021 dan Tansy E. Hoskins, 2022. Foot Work: What Your Shoes Tell You About Globalisation. W&N). Sayangnya, sebagain besar dari kita sering melewatkan, bahkan mungkin tidak memiliki cukup pengetahuan tentang itu. Sejauh ini, orang bicara peduli lingkungan dalam berkegiatan di luar ruangan baru sebatas “Take Nothing but Pictures, Kill Nothing but Time, Leave Nothing but Footprints” (1950-an) dan  “Leave No Trace” (1994). Padahal, masalahnya jauh melampaui dan lebih besar dari itu. Persoalannya bukan hanya masalah kebiasaan dan perilaku individu. Ini adalah persoalan sistemik dalam sebuah sistem ekonomi dominan saat ini: kapitalisme. Karena itu, sangat wajar ketika seorang penggiat luar ruangan melontarkan pertanyaan reflektif : …apakah olahraga luar ruangan merupakan satu bentuk ekstraksi sumber daya? (Ross Reid (Nerdy About Nature), 2025).

Kurang lebih itulah agenda yang akan saya kerjakan selama melakukan microadventure (tiga hari dua malam) di kawasan gunung–hutan di sekitar Bandung akhir tahun ini. Jika ada yang tertarik ikut, atau berminat memperdalam dan mendiskusikan isu-isu ini, silakan. Kontak WA 0815-7321-8225.

Sumber Bacaan

Andkjær, Søren and Larsen, Signe Højbjerre. 2025. “Communication and Cultural Significance in Two Danish Outdoor Facebook Groups:‘Check Out My Campfire, See My Big Catch – I Am an Outdoor Person!’” dalam Beames, Simon Kennedy and Maher, Patrick T. (Eds.) 2025. Routledge Handbook of Mobile Technology, Social Media and the Outdoors, Routledge.

Diefenbach, Sarah and Christoforakos, Lara. “The Selfie Paradox: Nobody Seems to Like Them Yet Everyone Has Reasons to Take Them. An Exploration of Psychological Functions of Selfies in Self-Presentation. Frontiers in Psychology, Volume 8, Article 7, 1 January 2017.

Bratrut, Tom. 2025. “Becoming an Outdoors Person: identity Transformation through nature Activity and Social Media in Norway”, dalam Beames, Simon Kennedy and Maher, Patrick T. (Eds.) 2025. Routledge Handbook of Mobile Technology, Social Media and the Outdoors, Routledge.

Falkowski, Tomasz. “Does “Leave No Trace” Miss the Forest for the Trees?” Edge Effects, December 11, 2025.

Hoskins, Tansy E. 2022. Foot Work: What Your Shoes Tell You About Globalisation. W&N.

Hung, Wei-Tien and Liou, Gwo-Bao. “How is the effect of social media on intention to outdoor recreations? A study using personal social connections as a moderator”. Heliyon 9, 2023.

MacDonell, Mara. “Is the Outdoor Recreation Boom Too Good to Be True?” Edge Effects, November 16, 2023.

Reid, Ross (Nerdy About Nature), “Is Outdoor Recreation a form of Resource Extraction? Reframing our relationship to enjoying the ‘great outdoors’“. February 09, 2025.

Storr, Will. 2018. Selfie: How We Became So Self-Obsessed and What It’s Doing to Us. ABRAMS The Art of Books.

Wichman, Casey J. “Social media influences National Park visitation.” Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America (PNAS), February 20, 2024.

Foto: Guduru Ajay Bhargav.

Previous Story

Microadventure

Go toTop

Don't Miss

Microadventure

Bagi orang Bandung, yang kotanya dikelilingi banyak gunung dan perbukitan—lazim

Naik-naik ke Puncak Gunung – Bagian 2

Naik-naik ke Puncak Gunung – Bagian 1 Lonceng berbunyi. Saya