Bagi orang Bandung, yang kotanya dikelilingi banyak gunung dan perbukitan—lazim disebut Bandung dilingkung (dikelilingi) gunung—untuk melakukan bushwalking bukan hal yang sulit, dan tidak membutuhkan biaya besar. Praktis tinggal “ngesot”. Bushwalking adalah istilah khas Australia untuk kegiatan hiking, tramping, trekking, hill walking, atau rambling. [Silakan baca penjelasan singkatnya dalam daftar istilah di bawah].
Pergi ke Utara, Selatan, Timur dan Barat kota Bandung kita dapat menemukan deretan gunung dan hutan yang melingkupinya. Namun, sebagai orang yang lahir dan besar di kota Bandung kadang saya tidak menyadari betapa Bandung memiliki banyak ruang berpetualang. Saya dan mungkin banyak orang yang biasa berkegiatan di ruang terbuka malah lebih memilih pergi ke gunung-gunung di luar provinsi, luar pulau, bahkan luar negeri.
Ketika masih kuliah, pergi mendaki gunung yang ketinggiannya lebih dari 3.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), atau hiking di kawasan pedalaman Taman Nasional lebih terasa sebagai sebuah petualangan dibanding mendaki gunung Manglayang (1.818 mdpl) atau gunung Palasari (1.852 mdpl) di Timur Bandung yang sosoknya bisa saya lihat jelas dari rumah. Pandangan ini jelas keliru.
Pertama, petualangan adalah sebuah pola pikir, semangat untuk mencoba hal-hal baru dan keluar dari zona nyaman (Humphreys, 2014). Petualangan berkaitan dengan antusiasme, ambisi, keterbukaan pikiran, dan rasa ingin tahu. Jadi, sebuah petualangan tidak diukur berdasarkan seberapa tinggi gunung yang didaki, seberapa terjal medan yang dilalui, atau seberapa lebat hutan yang disinggahi. Pergi menyusuri lereng perbukitan dan kawasan pegunungan di sekitar kota tempat kita tinggal adalah sebuah petualangan yang nilainya sama dengan pergi mendaki gunung Rinjani atau Semeru.
Kedua, alam adalah pemegang kendali mutlak. Apapun bisa terjadi di luar kehendak kita. Walaupun ada hal-hal yang bisa diprediksi, keputusan akhir tetap di tangan alam itu sendiri. Tidak bisa dan tidak boleh diremehkan. Gunung tinggi atau pendek sama-sama memiliki potensi risiko yang bisa berakibat fatal bila kita mengabaikannya. Itu sebabnya, memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar berkegiatan di luar ruangan menjadi penting. Selain tentu saja perlengkapan standar yang harus selalu dibawa setiap bepergian ke alam terbuka. Baik yang digunakan langsung maupun yang hanya dibutuhkan di saat-saat menghadapi situasi kritis.
Situasi kritis yang mengancam keselamatan bisa muncul bukan hanya di gunung-gunung dengan ketinggian di atas 8.000 mdpl bersuhu ekstrem hingga minus 70 derajat, juga di perbukitan, seperti bukit Mongkrang, Jawa Tengah. Kejadian belum lama ini (Januari 2026) membuktikan itu. Jadi, sedia payung sebelum hujan menjadi hal krusial dalam berkegiatan di luar ruangan.
Dengan demikian, jangan berpikir petualangan itu harus besar, jauh, rumpil (kompleks), dan heboh. Perjalanan “tektok”—pergi pagi pulang sore/malam—menyusuri jalan setapak di pedesaan naik ke perbukitan lalu menyusuri kawasan wanawisata, juga adalah petualangan. Di tahun 1980-an kegiatan seperti ini lazim disebut cross-country. Dekat, murah, dan cepat tanpa menghilangkan esensi petualangannya itu sendiri. Alastair Humphreys (2014), seorang petualang segala medan asal Inggris mengistilahkannya dengan sebutan microadventure (petualangan skala kecil), yakni “petualangan yang lokasinya dekat dengan tempat tinggal: murah, sederhana, singkat, namun sangat efektif.”
Petualangan jenis ini, kata Humphreys, “tetap menghadirkan esensi dari petualangan besar—tantangan, kesenangan, pelarian sejenak dari rutinitas, pengalaman belajar, dan rasa antusiasme. Semua unsur tersebut tetap ada.” Semangat dan manfaatnya pun sama dengan petualangan besar. Bedanya, microadventure dikemas dalam waktu singkat, seperti liburan akhir pekan atau bahkan pelarian sejenak dari kantor di pertengahan minggu. Karena itu, kita tidak harus tinggal di kawasan alam liar nun jauh di sana untuk bisa bertualang. Ada begitu banyak petualangan di dekat rumah kita. Kita hanya perlu mewujudkannya, kata Humphreys.
Jadi, tunggu apa lagi?!
[Catatan: untuk mengetahui lebih lengkap tentang Microadventure, silakan baca bukunya Alastair Humphreys, 2014. Microadventures Local Discoveries for Great Escapes, HarperCollins UK and Blackstone Publishing].
Daftar Istilah
Hiking. Aktivitas berjalan kaki di alam terbuka, biasanya menyusuri jalur atau jalan setapak di pedesaan, pegunungan, hutan, atau sepanjang garis pantai.
Tramping. Istilah untuk kegiatan backpacking atau hiking melintasi alam liar yang medannya menantang. Kegiatan ini sering kali melibatkan perjalanan selama beberapa hari di jalur-jalur terpencil.
Trekking. Aktivitas berjalan kaki menempuh jarak jauh melintasi medan alami, terjal, atau terpencil untuk tujuan rekreasi, petualangan, atau olahraga.
Hill Walking. Aktivitas berjalan kaki untuk kesenangan, kebugaran, atau olahraga di kawasan perbukitan atau pegunungan tanpa memerlukan peralatan teknis pendakian.
Rambling. Aktivitas luar ruangan yang santai berupa kegiatan berjalan kaki untuk menikmati suasana di kawasan perbukitan, lahan terbuka, atau jalur pendakian.
Tektok. Istilah tidak baku yang mengacu pada perjalanan hiking atau naik-turun gunung dalam sehari tanpa menginap.
Sumber Bacaan
Humphreys, Alastair. 2014. Microadventures Local Discoveries for Great Escapes. HarperCollins UK and Blackstone Publishing.
Berbagai informasi di situs Outdoors Gueensland dan situs personal Alastair Humphreys
