Menyaksikan antrean panjang Army—sebutan untuk fans BTS—dari berbagai negara demi menyaksikan 7 laki-laki asal Korea Selatan menyanyikan “Mic Drop”, “Dynamite”, “Body to body” dan seterusnya adalah biasa. Tetapi melihat foto hiruk-pikuk orang menuju puncak gunung Rinjani cukup membuat saya tertegun. Berdasarkan data Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), dari Januari hingga November 2025, tercatat ada 76.165 orang yang mendaki Gunung Rinjani (Tribun Lombok). 41.973 orang diantaranya merupakan wisatawan mancanegara, sementara 34.192 berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
Naik gunung sebagai olahraga paling sunyi—seperti yang saya alami antara 1980-an hingga akhir 1990-an—kini sudah tak sepi lagi. Gunung sebagai tempat “persembunyian”yang selalu merangsang perenungan, sudah berbeda adanya. Sudah seperti hiruk-pikuk orang di pasar kaget hari Minggu di Gasibu Bandung, dan tempat-tempat wisata massal di kawasan Puncak Bogor.
Pergeseran Minat Khusus ke Gaya Hidup
Di tahun 1980-1990-an, mereka yang mendaki gunung adalah anak-anak muda yang tergabung dalam organisasi “pecinta alam” di sekolah menengah atas, perguruan tinggi, dan organisasi di luar lembaga pendidikan. Bagi anak-anak muda yang tinggal di Bandung dan Jakarta, biasanya memulai pendakian ke gunung-gunung yang tersebar di Pulau Jawa. Gede, Pangrango, Salak, Ciremai, Slamet, Merbabu, Semeru, Sindoro, Sumbing, Lawu, dan Arjuno merupakan gunung-gunung yang pupuler di masa itu.
Bahwa gunung-gunung itu “ramai” di musim liburan, ya. Tetapi tidak seperti keramaian pasar kaget di akhir pekan. Selain itu, mereka yang gemar mendaki gunung relatif sudah memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar berkegiatan di luar ruangan, dan secara fisik serta mental lebih siap menghadapi situasi dan kondisi terburuk di gunung. Tentu ada saja yang pergi hanya bermodalkan ransel dan isinya tanpa tahu apa-apa selain keinginan mencapai puncak. “Kepolosan” semacam itu pernah saya temui saat mendaki Ciremai. Seorang perempuan yang terkena hipotermia tergeletak menggigil di tanjakan curam dikerumuni kawan-kawan seperjalananya yang panik dan kebingungan tak tahu harus berbuat apa. Beruntung kami bisa memulihkannya.
Berbeda dengan gejala yang muncul, terutama selepas pandemi Covid-19, naik gunung sudah bukan lagi milik mereka yang tergabung dalam organisasi “pecinta alam” dan pernah melewati pendidikan dan latihan berkegiatan di alam terbuka—mountaineering, rock climbing, caving, rafting, survival dan seterusnya. Siapapun bisa mendaki gunung selama bisa membayar penyedia jasa perjalanan yang menawarkan paket all-in-one. Mulai dari pemandu, peralatan hiking dan camping, porter hingga tukang masak. Praktis cukup membawa badan dan uang. Naik gunung tampaknya sudah bergeser dari kegitan “minat khusus” menjadi rekreasi “gaya hidup”. Beberapa studi—meskipun tidak secara khusus menelisik fenomena tersebut—menunjuk kemajuan mobile technology dan media sosial sebagai dua faktor yang memungkinkan itu terjadi (lihat misalnya, Simon Kennedy Beames and Patrick T. Maher (Eds.), 2025. Routledge Handbook of Mobile Technology, Social Media and the Outdoors, Routledge).
Everest: Puncak Permintaan dan Penawaran
Hiruk-pikuk orang-orang “berlomba” mencapai puncak gunung bukanlah gejala baru. Nun jauh di sana, di gunung yang menjadi impian banyak pendaki untuk menggapainya, yaitu Everest (Peak XV) sudah dipadati orang sejak 1990-an. Everest base camp yang teletak di kaki Khumbu Glacier, di ketinggian 5.364 meter di atas permukaan laut (mdpl) (17.600 feet), di musim pendakian—April/Mei (spring season) dan September/November (autumn season)—susasananya ramai seperti sarang semut (Krakauer, 2009). “Di Everest, di K2, ke mana pun Anda pergi—suasananya benar-benar kacau seperti sirkus,” kata Sandro Gromen-Hayes, seorang sinematografer pendakian ketinggian ekstrem menguatkan kesaksian Krakauer tiga puluh tahun silam (Godwin, 2026)
Dalam 20 tahun terakhir (2004—2024), jumlah pendaki di Everest meningkat hampir sepuluh kali lipat—dengan lebih dari separuh dari total 10.055 keberhasilan mencapai puncak terjadi dalam satu dekade terakhir (Crockett, 2024). Pada tahun 2019 saja, menurut Crockett, rekor jumlah pendaki yang mencapai puncak sebanyak 876 orang, sehingga menyebabkan kemacetan dan memberi andil pada 11 kematian. “Kawasan yang dulunya merupakan bentang alam sunyi,” lanjut Crockett, “kini dipenuhi dengan tabung oksigen seharga 550 dolar AS, ribuan kilogram kotoran manusia yang membeku, serta lebih dari 200 jenazah.”
Menurut catatan Visual Capitalist (Gilbert, 2026), rata-rata pendakian tahunan yang sukses mencapai puncak Everest (tidak termasuk jumlah total pendaki yang datang ke Everest) antara 1995—1999 sekitar 100. Jumlah itu melonjak tajam pada periode 2021—2025 yang mencapai sekitar 720 pendakian. Jumlah orang terbanyak berada di Everest terjadi pada 2025. Mencapai 1.519 orang, termasuk pekerja sewaan yang jumlahnya lebih dari 60% dari total jumlah tersebut. (Data lengkap tentang aktivitas pendakian di pegunungan Himalaya bisa dibaca di The Himalaya by the Numbers: A Statistical Analysis of Mountaineering in the Nepal Himalaya, 1950-2024).
Terjadinya peningkatan jumlah pendaki ke Everest merupakan buah dari komersialisasi pendakian yang mulai merebak pada 1990-an. Salah satu penandanya adalah hadirnya Adventure Consultants pada 1991. Latar belakang pendiriannya sangat jelas: adanya “pasar yang belum tergarap—yakni orang-orang yang memiliki impian dan dana memadai namun minim pengalaman untuk mendaki gunung-gunung besar dunia secara mandiri” (Krakauer, 2009). [Catatan: jika kalian berniat mendaki Everest tahun ini, biayanya berkisar antara $30.000 hingga lebih dari $300.000—bergantung pada jenis ekspedisi, cakupan layanan dalam harga tersebut, serta tingkat kemewahan yang diinginkan (Penson, 2026)].
Era baru telah dimulai. Kini, mereka yang memiliki surplus ekonomi (uang) berkelimpahan memiliki kesempatan terbuka untuk mendaki Everest. Ini adalah konsekuensi logis hukum permintaan dan penawaran. Di satu sisi ada orang yang memiliki cukup banyak uang, minim pengetahuan dan keterampilan tetapi butuh pengakuan; dan di sisi lain ada orang yang melihat peluang menjadikan Everest sebagai aset komersial bernilai tinggi. Tepat sekali ketika Crockett (2024) menulis: “Konon, dari puncak Gunung Everest yang berketinggian 29.029 kaki, Anda dapat melihat lengkungan Bumi. Namun, bagi ratusan pendaki yang berlomba-lomba menaklukkannya, ada lengkungan lain yang turut berperan: lengkungan penawaran dan permintaan.”
Beberapa kalangan pendaki tradisional sangat terusik dengan perkembangan itu, tulis Krakauer dalam Into Thin Air (2009). Mereka menilai, Everest seolah “dijual” kepada orang-orang kaya baru. Everest telah direndahkan dan dinodai kesuciannya. Rob Hall, pendiri Adventure Consultants bahkan mendapat kritikan langsung dari Sir Edmund Hillary—orang pertama yang menginjakan kakinya di puncak Everest bersama Tenzing Norgay (Sherpa) pada 1953. Seperti dikutip Krakauer, dengan nada kesal Hillary menyatakan, bahwa “kerumunan pendaki pemula yang dipandu ke puncak dengan membayar biaya tertentu itu ‘telah memicu hilangnya rasa hormat terhadap gunung tersebut’.”
Tentu saja orang bisa setuju dan tidak. Namun, sebelum menentukan posisi apakah kita setuju dan mendukung pendapat Hillary, atau berdiri di sisi Hall, akan lebih baik bila kita telisik terlebih dahulu konsekuensi dari kedua pandangan tersebut. Ya, siapa tahu ada jalan tengahnya. Pembahasannya akan saya kemukakan di bagian 2 tulisan ini.
Sumber Bacaan
Beames, Simon Kennedy and Maher, Patrick T. (Eds.), 2025. Routledge Handbook of Mobile Technology, Social Media and the Outdoors, Routledge
Crockett, Zachary. “How Mount Everest Became a Multimillion-Dollar Business.” The Hustle, 01-10-2024.
Gilbert, Sofie. “How Crowded Has Mount Everest Become?” Visual Capitalist, 4-10-2026.
Godwin, Richard. “Death on K2: The Fatal Race up the World’s Toughest Mountain.” The Telegraph, 03-10-2026
Krakauer, Jon. 2009. Anchor Books Mass-Market Edition. Into Thin Air: A Personal Account of the Everest Disaster. Anchor Books.
Penson, Blake. “How Much Does It Cost to Climb Mt Everest in 2026?” Expedreview, 20-08-2026.
Penson, Blake. “The Deadly Obsession with Everest.“ Expedreview, 24-12-2024.
Salisbury, Richard; Hawley, Elizabeth; and Bierling; Billi. 2025. The Himalaya by the Numbers: A Statistical Analysis of Mountaineering in the Nepal Himalaya, 1950-2024. The Himalayan Database.
Gambar Ilustrasi: Tilixia-Summer
