Menerawang ke Belakang
Kemungkinan besar orang-orang segenerasi saya yang usianya sekitar 20 tahunan di tahun 1990-an dan aktif berkegiatan di luar ruangan (outdoor activities) memiliki keinginan mendaki gunung-gunung tertinggi di Indonesia, bahkan dunia. Bisa mencapai puncak-puncak gunung tertinggi di Pulau Jawa saja—Ciremai (tertinggi di Jawa Barat, 3.078 meter di atas permukaan laut/mdpl); Slamet (tertinggi di Jawa Tengah, 3.428 mdpl); dan Semeru (tertinggi di Jawa Timur sekaligus tertinggi di Pulau Jawa, 3.676 mdpl) —sudah membuat berbangga diri. Selepas mendaki gunung-gunung di Pulau Jawa biasanya perburuan puncak gunung berlanjut ke Rinjani di Nusa Tenggara Barat (3.726 mdpl), Kerinci di Sumatera Barat (3.805 mdpl), Leuseur (3.119 mdpl) di Aceh, lalu menyeberang sejenak ke Low’s Peak, Kinabalu (4.095 mdpl) sebelum dilanjutkan ke puncak Cartenz Pyramid/Puncak Jaya (4.884 mdpl) di Kabupaten Mimika, yang sekarang berada di wilayah administratif Provinsi Papua Tengah. Perjalanan ke puncak-puncak gunung yang ketinggiannya antara 1.000—2.000 mdpl biasanya dianggap hiking biasa. Tidak pernah masuk ke dalam agenda pendakian khusus.
Sebagai catatan, Indonesia memiliki banyak gunung. Menurut data Kementerian ESDM, jumlah gunung di Indonesia ada sekitar 400 hingga 600. 500 di antaranya adalah gunung berapi, di mana 127–129-nya merupakan gunung berapi aktif. Jika dihitung berdasarkan jumlah gunung yang tersebar di Indonesia, dengan kekhasannya masing-masing—dalam aspek lingkungan maupun manusianya—kita sebenarnya tidak akan pernah kehabisan area petualangan. Bahkan kita sangat berkelimpahan. Lalu, mengapa orang cenderung lebih suka, bahkan berlomba-lomba melakukan pendakian ke gunung-gunung tertinggi di suatu pulau, negara, benua hingga dunia yang membutuhkan biaya mahal?
Dari sudut pandang saya, sebagai orang yang pernah melewati hasrat seperti itu, keinginan untuk mencapai puncak tertinggi didorong oleh kebutuhan pembuktian pada diri sendiri juga orang lain. Di masa itu, tidak sedikit yang berpandangan bahwa prestasi seorang pendaki gunung didasarkan pada jumlah dan tinggi gunung yang didakinya. Banyak yang beranggapan bahwa prestasi seseorang atau sebuah organisasi pendaki gunung diukur dari keberhasilannya mencapai puncak-puncak gunung yang masuk dalam daftar “Seven Summits”—Everest (8.848 mdpl), Aconcagua (6.961 mdpl), Denali (6.194 mdpl), Kilimanjaro (5.895 mdpl), Vinson (4.892 mdpl), Elbrus (5.642 mdpl), Puncak Jaya/Cartensz Pyramid (4.884 mdpl) (Versi Reinhold Messner). Setuju atau tidak, pandangan seperti itu masih terus hidup hingga sekarang.
Inspirasi Dua Ekspedisi
Namun, dipengaruhi oleh pendidikan yang tengah saya jalani saat itu—antropologi—dan pengaruh berbagai informasi di seputar dunia penjelajahan yang saya baca, cara pandang saya terhadap kegiatan di ruang terbuka mengalami perubahan. Semangat, mental, pengetahuan dan keterampilan berkegiatan ruang terbuka tidak lagi saya tujukan untuk meninggalkan jejak kaki di puncak-puncak gunung tertinggi, melainkan sebagai bekal dalam upaya mengembangkan pengetahuan. Bukan puncak, tetapi ‘penelitian’ -lah yang menjadi kata kuncinya. Dari situlah saya merumuskan konsep ekspedisi “Operasi Lintas Rimba Indonesia (OLRI)” (1996). Gagasannya sendiri diinspirasi oleh Operation Drake dan Operation Raleigh.
Operation Drake adalah pelayaran keliling dunia—menggunakan kapal Eye of the Wind—di bawah pengorganisasian Scientific Exploration Society (SES), Inggris. Ekspedisi ini dipimpin Kolonel John Blashford-Snell. Para pesertanya terdiri dari kaum muda—lazim disebut YEs (Young Explorers)—yang diseleksi dari berbagai negara dengan tujuan melakukan eksploarsi ilmiah, penelitian dan menyelenggarakan proyek-proyek kemasyarakatan.
Ekspedisi ini memiliki sembilan tahap kegiatan di laut dan satu tahap di darat yang masing-masing berlangsung selama kurang lebih tiga bulan. Pangeran Wales—sekarang Raja Charles III—yang bertindak sebagai pelindung ekspedisi menyebutnya sebagai ‘some of the challenges of war in a peace time situation’ (beberapa tantangan perang dalam situasi masa damai). Operation Drake dilaksanakan selama dua tahun. Dimulai pada Oktober 1978 dan berakhir pada Desember 1980. Sulawesi, menjadi salah satu tujuannya, dengan genda utama membantu pemerintah Indonesia menyusun Rencana Pengelolaan Cagar Alam (John and Cable, 1981).
Operation Raleigh merupakan kelanjutan dari Operation Drake diselenggarakan selama 4 tahu (1984–1988). Misinya sejalan dengan Operation Drake: melakukan penelitian ilmiah di darat dan lautan, eksplorasi arkeologi, studi glasiologi, geologi dan paleontologi, serta mengerjakan proyek-proyek kemasyarakatan. Ekspedisinya sendiri dibagi menjadi 15 fase berdurasi tiga atau empat bulan yang melibatkan 40 ekspedisi, dengan 200 peserta di setiap fase (Jeffrey J., 1983). Sekitar 600 ilmuwan akan datang dan pergi dalam rentang waktu empat tahun tersebut.
Indonesia, lagi-lagi menjadi salah satu tempat tujuan ekspedisi. Kali ini mengambil tempat di Pulau Seram, Maluku, tepatnya di dalam dan di sekitar Taman Nasional Manusela serta Gunung Binaiya. Operation Raleigh di Indonesia berlangsung selama kurang lebih tiga bulan (Juli–Oktober 1987). Cukup banyak kaum muda Indonesia yang terlibat dalam ekspedisil. Diantara adalah Mirza D. Kusrini dan Jeni Shannaz, yang kemudian menulis buku pengalaman mereka dalam Operation Raleigh di Seram dengan judul Bukan Carita Parlente: Kisah Operation Raleigh di Taman Nasional Manusela, Seram (2021).
Kembali ke Operasi Lintas Rimba Indonesia (OLRI) yang saya gagas, bisa dikatakan kandas di awal perjalanan. Ide tersebut hanya bisa diwujudkan satu kali di satu etape—yakni di Taman Nasional Kayan Mentarang, Kalimantan Utara—dari belasan penjelajahan di empat etape (Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua) yang direncanakan. Itu pun jauh dari kata berhasil—ditinjau dari berbagai aspek ekspedisi ilmiah—jika dibandingkan dengan rencana di atas kertas. Selepas saya menyelesaikan studi, gagasan itu hanya hidup sebagai ide yang pernah ada, karena tidak pernah ada yang melanjutkan hingga sekarang.
Sumber Bacaan
Blashford-Snell, John and Cable, Michael. 1981. Operation Drake: The Official Account of an Epic Adventure, W.H. Allen.
Blashford-Snell, John. 1987. Operation Raleigh: The Start of an Adventure. Collins.
Carmel, Jeffrey J. April 18, 1983. “Operation Raleigh giving young explorers a chance to see the world”. The Christian Science Monitor.
