June 17, 2015

Perjalanan Spiritual bagi Saya

Bisa berbincang-bincang dengan orang-orang di tempat yang saya singgahi, dan mengenali kehidupan mereka meski sekilas adalah kepuasan dari sebuah perjalanan. Jika kehidupan adalah jutaan halaman buku, setidaknya saya sudah membaca, meski itu hanya satu paragraf di halaman pertama.

Perjalanan selalu menyenangkan. Jauh atau dekat tidak jadi soal. Selalu ada hal-hal menarik dan baru yang bisa ditemui. Naik bis Trans Jakarta dari Harmoni ke Pulogadung saja ada begitu banyak hal menarik yang bisa kita catat. Atau, coba sesekali memutari pasar tradisional dan amati kejadian-kejadian yang ada di sana. Jika Anda cukup telaten mengamati, ada banyak kejadian yang bisa kita tulis dan ceritakan. Dari hal-hal konyol, mengundang tawa hingga membuat kening kita berkerut.

Apakah itu yang membuat daya tarik perjalanan? Bagi saya, ya. Melihat, mengamati, dan merasakan suasana sebuah tempat, terutama kehidupan orang-orangnya adalah alasan terbesar saya melakukan perjalanan. Tentu itu tidak berlaku bagi semua orang. Karena perjalanan sangatlah subjektif dan personal.

Rasa penasaran dan ingin tahu kehidupan orang-orang di setiap tempat membuat setiap perjalanan saya nyaris tanpa jadwal dan rencana pasti. Karena itu, tidak pernah menargetkan pergi ke satu titik kemudian melangkah ke titik-titik berikutnya secara terencana dan terjadwal jelas. Kalaupun saya membuat jadwal, sangat mungkin rencana pergi ke Timur berubah belok ke Utara karena ada hal yang lebih menarik di sana.

Dalam satu kunjungan ke Ubud, Bali, saya dan pasangan saya sempat mengunjungi satu keluarga yang sedang mempersiapkan upacara perkawinan anaknya karena ajakan ibu-ibu yang berpapasan di jalan. Selama di sana kami bisa mengamati dan bertanya tentang hal-hal baru yang kami tidak tahu.

Begitu pun saat mengunjungi daerah-daerah lainnya di Indonesia. Saya lebih memilih menghabiskan cukup banyak waktu mengobrol dengan penduduk setempat daripada harus singgah di satu tempat yang menurut banyak informasi menarik dikunjungi. Menjelajahi tempat-tempat sepi dan menghindari tourist spot terasa membuat perjalanan lebih berarti.

Bentang alam dan pesisir Tulamben, Bali atau Kelok 44 di atas Danau Maninjau, Sumatera Barat memang indah. Tapi saya lebih merasakan keindahan itu punya makna saat bisa bersentuhan dengan penduduk setempat. Saya selalu tergoda untuk melihat sisi-sisi kontras antara kehidupan mereka dengan keindahan alam yang mengelilinginya. Antara kehidupan mereka dengan gegap-gempita perkotaan di Indonesia, terutama Jakarta.

Tentu saya tidak punya kemampuan mengubah kontras yang ada. Tapi, dengan mendengar mereka bercerita, setidaknya saya mulai tahu ada kenyataan lain yang penting untuk dilihat dari sekadar menghirup udara segar dan indahnya pemandangan di suatu tempat.

Bagi saya, bisa berbincang-bincang dengan orang-orang di tempat yang saya singgahi, dan mengenali kehidupan mereka meski sekilas adalah kepuasan dari sebuah perjalanan. Jika kehidupan adalah jutaan halaman buku, setidaknya saya sudah membaca, meski itu hanya satu paragraf di halaman pertama. Bagaimana dengan Anda?

Foto: Sadikin Gani

Go toTop