1996. Jam menunjukkan sekitar pukul 04.30 WIB—Waktu Indonesia Barat. Sambil menggandeng rucksack/ransel saya bergegas turun dari angkutan kota (angkot) saat tiba di Stasiun Hall atau Stasiun Bandung. Ini adalah stasiun kereta tua yang dibangun di era Belanda. Diresmikan pada 17 Mei 1884. Stasiun ini cukup akrab, karena saya sering hunting foto di sini, atau cuma duduk diam mengamati lalu-lalang orang. Entah kenapa, stasiun kereta api—terutama stasiun kecil yang berada di luar kota—selalu menjadi magnet buat saya untuk sekadar duduk berdiam diri menikmati suasananya.
Pagi ini suasana stasiun sudah cukup ramai. Calon penumpang dan porter kereta hilir mudik kesana-kemari. Tidak seperti sekarang, keluar masuk stasiun kereta di jaman itu sangat longgar. Tanpa tiket kereta pun kita bisa masuk ke area stasiun. Cukup membayar tiket peron. Harga persisnya saya lupa. Mungkin sekitar 100—150 rupiah. Nilai uang yang saat ini terasa tak berarti.
Hari ini saya dan beberapa mahasiswa—lintas angkatan—jurusan antropologi Universitas Padjadjaran hendak bertolak ke Surabaya sebelum kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan kapal laut ke Makassar, kota tujuan akhir kami.
Kereta yang akan mengantar kami sudah terparkir—jika tidak salah—di jalur 2. Ini adalah pengalaman ketiga kalinya saya naik kereta api ekonomi yang berhenti di hampir setiap stasiun kecil mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jogyakarta, hingga Jawa Timur. Terakhir berdesak-desakan di kereta yang sama ketika saya hendak mendaki Gunung Semeru pada 1991.
Oya, selain kereta akan berhenti di setiap stasiun, tiket pun tanpa nomor duduk. Aturannya sederhana, siapa cepat dia dapat. Di setiap pemberhentian penumpang baru terus bertambah. Jumlahnya tak sebanding dengan penumpang yang turun. Jika tempat duduk sudah penuh, silakan usahakan sendiri akan memilih tempat di mana. Di lorong-lorong tiap gerbong kereta adalah salah satunya. Pilihan lain adalah duduk di area pembatas antargerbong, atau mojok di toilet rusak yang sudah tak terpakai.
Itu belum lengkap, karena kereta ini sama sekali tidak memiliki pendingin (AC). Kalaupun ada kipas angin, jangan terlalu berharap benda itu berfungsi dengan baik. Perjalanan menjadi semakin “meriah”, karena gerbong kereta yang sudah penuh sesak oleh manusia itu akan selalu dilalui para pedagang asong dan pengamen lintas stasiun, lintas kota, bahkan lintas provinsi yang mondar-mandir tiada henti. Selama di perjalanan kita akan disuguhi dialek yang berbeda-beda setiap kali kereta bergeser dari satu kota/kabupaten ke kota/kebupaten dan provinsi yang berbeda. Termasuk jenis makanan yang dijajakan dan lagu-lagu yang dilantunkan para pengamen. Menarik bukan?!
Ini adalah pengalaman luar biasa yang tak mungkin dialami generasi Z. Sebagian generasi Millenial awal yang tak mampu membayar tiket pesawat atau kereta bisnis, mungkin masih mengalami dinamika perjalanan yang sungguh “romantis” ini. Tetapi, buat orang yang malas terseok-seok “romantisme” Bandung-Surabaya selama 15 jam, seperti kawan saya di perhimpunan “pecinta alam”, dia sudah menelan CTM (Chlorpheniramine Maleate) begitu roda kereta mulai berputar. Tujuannya agar bisa tidur pulas dalam kondisi yang hampir tidak memungkinkan untuk itu. Tidak baik memang, tetapi untuk kali ini saya mengikuti siasatnya.
Dengan CTM, meski sempat terjaga beberapa kali, perjalanan terasa lebih ringan. Setelah melewati semua dinamika di dalam kereta yang sempat saya sadari dan tidak, karena tertidur pulas, akhirnya tiba di Stasiun Gubeng, Surabaya. Rombongan kami sudah bertambah dengan kehadiran kawan-kawan dari Universitas Gadjah Mada (Jogyakarta), Universitas Udayana (Bali) dan Universitas Airlangga (Surabaya). Kami sama-sama menuju ke Sarasehan JKAI (Jaringan Kekerabatan Antropologi Indonesia) yang akan digelar di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar. Sebuah pertemuan mahasiswa antropologi se-Indonesia yang diselenggarakan dua tahun sekali. Kali ini mengusung agenda pembahasan tentang kemiskinan dan ketimpangan. Dua masalah yang hingga kini tak kunjung terselesaikan. Atau memang tidak akan pernah selesai sebelum semua manusia di bumi ini berkehendak mengubah sistem ekonomi-politik dominan yang sudah ratusan tahun mampu bertahan hidup: kapitalisme.
***
Kami suda tiba di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. KM (Kapal Motor) Rinjani yang bertolak dari Jakarta menuju Makassar sudah tiba di pelabuhan. Pelan-pelan kapal mendekat ke bibir pelabuhan. Klaksonya (marine horn) berbunyi pendek satu kali menandakan kapal akan sandar. Sebelum kapal benar-benar berhenti dengan sempurna dan tangga masuk ke dalam kapal dibuka, calon penumpang kelas ekonomi sudah mulai gelisah. Hanya tinggal beberapa saat lagi kelompok penumpang kelas ini—di mana kami menjadi bagiannya—akan menghadapi arena perebutan tempat di kapal sambil tetap mengamankan barang bawaan masing-masing. Aturannya sama seperti di kereta: siapa cepat dia dapat. Persaingan menjadi semakin ketat dan hiruk-pikuk tak menentu dengan datangnya banyak calo yang bergerak gesit nge-take tempat-tempat di area kelas ekonomi untuk diperjualbelikan kepada calon penumpang yang jelas-jelas berhak atas itu. Luar biasa bukan?! Inilah dunia sebenarnya. Dunia saling memangsa. Seperti dunia para politisi yang berseliweran di media sosial dan layar televisi.
KM Rinjani adalah kapal penumpang dengan panjang 144 meter dan lebar 23 meter. Kapal ini secara ideal dapat mengangkut penumpang sebanyak 1.600-1.700 orang. Dalam praktiknya, tentu saja lebih banyak dari itu. Sebagian besar dari rombongan kami kalah bersaing dan tak mendapatkan tempat yang seharusnya. Kalaupun dapat, masalahnya belum selesai, karena tidak bisa leluasa meninggalkan barang bawaan, meski hanya untuk ke toilet. Harus selalu ada satu dua kawan yang menunggu bergantian. Karena kami berada di area terbuka yang tidak aman. Ada begitu banyak orang yang rasa kepemilikannya pada barang orang lain sangat besar. Semoga dinamika kehidupan di dalam kapal penumpang yang seperti ini sudah tak ada lagi. Ya, semoga.
Salah satu pilihan yang bisa diambil adalah area dek kapal. Jika tidak membawa alas duduk, tak perlu khawatir, karena ada orang yang menyewakan tikar. Di masa itu, melewati pengalaman seperti ini asyik-asyik saja. Bertemu dangan kawan-kawan baru dan bisa bertukar pikiran dengan mereka sudah sangat menyenangkan. Mampu menampik kegelisahan melihat realita yang selayaknya tak ada.
Saya tengah bersender di dinding dek menghadap ke laut ketika seorang mahasiswa UI yang baru saya kenal menghampiri dan duduk di sebelah saya. Dia memegang sebuah buku berjudul Wacana Tragedi dan Dekonstruksi Kebudayaan. Saya tahu persis buku yang ditulis Tommy F. Awuy itu—dosen filsafat UI. Sialan, pikir saya, buku itu belum sempat saya baca. Jari telunjuknya diselipkan di antara halaman yang sudah dan baru akan dibaca. Saya perhatikan, buku itu sudah hampir setengahnya dia baca.
Dimulai dengan obrolan basa-basi, berlanjut ke diskusi serius hingga soal tugas akhir (skripsi) yang tengah saya tulis dan tak kunjung selesai itu. Cukup lama kami berdiskusi, termasuk membahas buku yang tengah dia baca. Selama kami berbincang-bincang tampaknya dia memperhatikan sesuatu yang saya bawa: rucksack/ransel. Ransel yang saya pinjam dari seorang kawan itu ukurannya besar, 85 liter. Bisa memuat peralatan dan perlengkapan naik gunung untuk 2 orang. Karena ukurannya yang besar, ransel itu hanya terisi sekitar 1/3-nya. Isinya cuma pakaian ganti, peralatan mandi, beberapa buku dan lembaran makalah yang akan saya presentasikan. Tidak lebih tidak kurang.
Di luar dugaan kawan dari UI yang sekarang sudah Ph.D dan mengajar di almamaternya itu melontarkan pertanyaan sekaligus pernyataan mengagetkan:
“Lo anak orang kaya, ya?!”
Jelas saya kebingungan dengan kalimat itu. “Kaya? Maksudnya?”
“Itu, ransel lo. Itu kan barang mahal.”
Kebingungan saya berubah jadi tawa. Rupanya dia memperhatikan merek ransel yang saya bawa: Karrimor.
Karrimor adalah brand peralatan dan perlengkapan luar ruangan asal Lancashire, Inggris. Harga barang-barang keluaran brand yang didirikan pada 1946 itu memang tidak murah. Ransel yang saya pinjam itu bila dikonversi ke rupiah harganya sekitar 800—850 ribu rupiah saat itu. Ketika 1 Dollar Amerika setara 2.000 rupiah. [Sekarang 1 Dollar Amerika setara 18 ribu rupiah?! Oh, kian parah perekonomian Indonesia] Ranselnya sendiri dibeli di Jerman. Di tahun-tahun itu kemungkinan belum ada distributor resminya di Indonesia.
“Ini ransel pinjaman. Gak sanggup kalo harus beli.”
Dia terkekeh. Dan saya terus tertawa.
Tak lama berselang suara awak kapal kembali menyampaikan pengumuman ibadah Oikumene melalui pengeras suara.
Kapal terus melaju menuju Timur.
***
Foto: AI.
