“Hello Youtube, welcome to another Swiss Army Knife project video,” adalah sapaan khas Felix Immler di kanal tayangan praktik bushcraft-nya di Youtube. Wajahnya selalu semringah, jauh dari kesan maskulin, macho, apalagi militeristik. Judul-judul kontenya pun jauh dari kesan sangar. Diantaranya, “Branch Fork Basket – Super Easy, Super Beautiful – Your first DIY Basket“; “DIY Rope Tensioning System – Super Easy 3 Minutes Project – New Invention – Bushcraft Rope Tensioner”; “Do you know the “Water Trick” for Oil Lamps? How to Craft an Oil Lantern”; “One-Stick Pliers: Use a Bush to Craft!” dan seterusnya. Tetapi, coba Anda masukan kata kunci “bushcraft” di fitur pencarian Youtube, kemungkinan besar yang muncul adalah thumbnail-thumbnail kondisi ekstrem dengan tampang laki-laki macho dan judul-judul konten berbau heroisme, seperti “3 Days of Survival in a Winter Blizzard”; “Alone in a Wild: Bushcraft, Catch and Cook”; “I Spent 7 Days Building a Secret Bushcraft Shelter Deep in the Wilderness”; “Alone in the Wilderness – Woodcraft and Camping”; “I Built 4 Incredible Survival Shelters Deep in the Forest”, dan banyak lagi.
Apakah praktik buschraft hanya milik dunia laki-laki, dan hanya laki-laki macho-lah yang mampu melakukannya? Tentu tidak! Siapa pun bisa, karena praktik bushcraft tidak mengenal batasan gender dan usia. Apakah keterampilan bushcraft hanya diperuntukkan bagi para penggiat luar ruangan, seperti pendaki gunung, thru-hiker atau ranger yang memang harus selalu siap menghadapi kondisi survival kapan pun? Tentu tidak. “Bushcraft bukanlah perjuangan anatara hidup-mati atau pertarungan antara manusia melawan alam” (MacWelch, 2026:12). Bushcraft adalah tentang menjadi bagian dari lingkungan, dengan sikap menghargai alam serta keterampilan yang telah diwariskan dari masa lampau hingga ke tangan kita saat ini. “Keterampilan fisik bushcraft,” kata MacWelch (Ibid), “memang bisa menjaga kelangsungan hidup seseorang dalam situasi survival di alam liar, tetapi ketakutan akan kematian bukanlah alasan utama orang mempelajari keterampilan ini.”
Jadi apa sebenarnya bushcraft itu? Mari kita tengok sekilas pengertiannya.
Bushcraft
Bushcraft merupakan kata majemuk, paduan dari kata “bush” dan “craft” (bahasa Inggris). Asal kata “bush” sendiri adalah “bosch” (bahasa Belanda tua) yang berarti “kawasan hutan dan alam liar”. Sementara “craft” merujuk pada kegiatan atau keterampilan untuk membuat sesuatu, khususnya dengan menggunakan tangan (Ibid). Oxford English Dictionary mendefinisikan bushcraft sebagai “keterampilan dalam hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan di alam liar (bush).” Namun, menurut MacWelch, bushcraft memiliki cakupan yang lebih luas dari itu. Bushcraft adalah perpaduan antara (1) keterampilan yang berguna (useful skills), pola pikir yang tepat (correct mindset)—memiliki sikap mental, keyakinan, dan sudut pandang yang tepat untuk menyikapi situasi, memecahkan masalah, atau mencapai tujuan secara efektif— dan pengetahuan tentang lingkungan (knowledge of the environment). Gabungan dari ketiga komponen itulah yang memungkinkan kita dapat hidup di alam liar sebagai bagian dari bentang alam itu sendiri, bukan sekadar sebagai pengunjung/wisatawan (Ibid.).
Ray Mears, penulis buku Essential Bushcraft (2002) mengibaratkan bushcraft seperti pohon besar yang bercabang ke berbagai arah, mulai dari botani, zoologi, kriya, dan kepemimpinan di alam terbuka, hingga bidang lain yang tak terhitung banyaknya. Namun, pada intinya, kata dia, bushcraft berlandaskan pada kemandirian serta ketergantungan pada alam. Senada dengan Mears, Mors L. Kochanski (1987) mengartikan bushcraft sebagai praktik keterampilan penting yang digunakan dalam keseharian di hutan untuk jangka waktu tak terbatas dengan meminimalisir ketergantungan pada material dan peralatan berteknologi modern. Bushcraft adalah tentang mewujudkan lingkungan di sekitar kita secara berkelanjutan dan nyaman, serta memungkinkan kita menjalani hidup yang selaras dengan alam—persis seperti yang dilakukan oleh nenek moyang kita di masa lampau (Taylor, 2016).
Namun demikian, sebagai sebuah praktik, bushcraft kerap disamakan dengan wilderness survival (bertahan hidup di alam liar), seperti yang bisa kita saksikan di banyak kanal Youtube. Padahal, kata Green (2014), meskipun memiliki sifat serupa— sama-sama melibatkan cara untuk bertahan hidup di alam liar—keduanya berbeda. Perbedaan utamanya terletak pada durasi waktu yang dihabiskan di kawasan hutan atau alam liar. Wilderness survival menggunakan taktik jangka pendek dengan tujuan utama untuk segera keluar dari hutan secepat mungkin (penyintas biasanya membutuhkan waktu rata-rata 72 jam untuk bisa keluar). Sebaliknya, bushcraft melibatkan pengalaman menyatu sepenuhnya dengan lingkungan alam; dan merupakan kegiatan yang dilakukan dalam jangka waktu panjang (Ibid).
Bukan Milik Laki-laki Macho
Seperti Green dan MacWelch, Immler pun membedakan wilderness survival dengan bushcraft. Bushcraft, menurutnya, tidak berkaitan dengan situasi darurat ekstrem yang menyangkut hidup dan mati. Para pelaku bushcraft (bushcrafter) secara sadar merencanakan waktu untuk berada di hutan dan menjadikan alam liar sebagai tempat bernaung guna menikmati kebahagiaan. Mereka tidak mengawali kegiatannya dengan mempertanyakan seberapa banyak waktu dan energi yang akan dihabiskan, karena tujuannya adalah melepaskan diri dari rutinitas peradaban dan menetap dengan nyaman di alam terbuka. Sebagai seperangkat pengetahuan, keterampilan dan teknik kerajinan tangan, tujuan bushcraft adalah membuat kehidupan di luar ruangan dan di tengah alam liar lebih nyaman.
Berangkat dari situlah Immler menggagas The Swiss Army Knife Book: 63 Outdoor Projects. Idenya: (1) membuat pedoman petualangan menyenangkan di dalam hutan sambil membuat sendiri berbagai perlengkapan sehari-hari yang diperlukan di hutan dari bahan-bahan yang tersedia di hutan menggunakan SAK (Swiss Army Knife); serta (2) membuat tempat berkemah yang nyaman di tengah hutan dan menikmati perjalanan seru di alam terbuka. Menurutnya, meskipun kenyamanan adalah hal yang biasa kita nikmati di rumah, menciptakan kenyamanan itu sendiri di alam terbuka memberikan kepuasan yang lebih besar. Berdasarkan pengalaman ketika saya masih rajin keluar-masuk hutan (1980-an—1990-an), berhasil menemukan lokasi shelter yang strategis—dekat dengan sumber air—dan sukses membangun bivak (bivouac) yang bebas bocor dari gempuran hujan deras adalah kenikmatan luar biasa. Membuat saya semakin sadar untuk selalu menghargai setiap kenyamanan yang diperoleh di rumah.
The Swiss Army Knife Book: 63 Outdoor Projects adalah buku kedua dia yang dicetak dalam bahasa Inggris. Buku berbahasa Inggris lainnya Crafting with the Pocketknife: A Practical Companion (2014) dan Victorinox Swiss Army Knife Whittling in the Wild (2020). Sementara sisanya, empat buku berbahasa Jerman: Werken mit dem Taschenmesser: 26 Schnitzanleitungen vom Klangstab bis zum Segelboot (2012); Werken mit dem Taschenmesser: Das kleine Handbuch für unterwegs (2015); Outdoor mit dem Taschenmesser. Das kleine Handbuch für unterwegs. Die besten Taschenmesserprojekte für Kinder und Erwachsene (2018); dan Schnitz it yourself: Neue Lieblingsprojekte mit dem Taschenmesser (2019). Immler berharap, selain bukunya dapat menarik minat banyak orang yang ingin memperkaya wawasan dan keterampilan dalam berkegiatan di alam terbuka, juga memberi cakrawala bahwa ada banyak hal menarik dan memiliki nilai guna yang bisa dilakukan selama berkegiatan di alam terbuka dari sekadar memanggang sosis di atas api unggun.
Sebagai buku panduan bushcrafting, The Swiss Army Knife Book: 63 Outdoor Projects dibagi menjadi dua bagian besar: Project dan The Essential. Project, memuat praktik dan pedoman pembuatan berbagai peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan selama hidup di alam terbuka. Bagian ini menampilkan foto dan teks ke-63 outdoor project yang dibagi menjadi lima kategori keterampilan: (1) pembuatan alat dan perkakas darurat; (2) pembangunan struktur camp permanen dan perlengkapannya; (3) membuat perlengkapan berbagai peralatan portable yang dibutuhkan di camp; (4) membuat peralatan dan perlengkapan memasak; dan (5) membangun area memasak dengan berbagai perlengkapan pendukungnya.
Sementara The Essentials berisi (1) pedoman mengumpulkan berbagai bahan yang tersedia di hutan tanpa menimbulkan kerusakan lingkungan; (2) pedoman bahan-bahan alami yang bisa dipakai untuk membuat ikatan dan cara membuatnya; (3) pedoman memaksimalkan penggunaan pisau saku SAK dalam praktik bushcraft; dan (4) pedoman pentingnya memperhatikan aspek legal dan regulasi bagi setiap bushcrafter yang hendak mempraktikkan keterampilan bushcraft dan membangun bushcraft camp di kawasan hutan tertentu.
Buku ini sangat berguna bagi siapa pun yang tertarik menekuni praktik bushcraft. Pedoman yang dikemas dalam format teks dan gambar pada setiap project yang ditampilkan memberikan kemudahan bagi pembaca, setidaknya saya, dalam memahami isi materinya. Dan satu hal yang patut diberi pujian adalah: buku ini berhasil mendobrak kesan bushcrafting sebagai dunia kaum laki-laki maco nan heroik, yang dipahami semata-mata sebagai praktik wilderness survival. Dengan menampilkan foto-foto orang dewasa dan anak-anak; laki-laki dan perempuan yang terlibat dalam praktik bushcraft, Immler berhasil menunjukkan bahwa bushcrafting adalah kegiatan inklusif yang terbuka bagi, dan bisa dilakukan oleh siapapun dalam situasi dan kondisi yang menyenangkan.
Semoga kalian yang membaca tulisan ini berkesempatan membaca dan mempelajari bukunya.
Bahan Bacaan
Canterbury, Dave. 2014. Bushcraft 101: A Field Guide to the Art of Wilderness Survival. Simon and Schuster.
Green, Scott. 2014. Bushcraft 101: Bushcraft Survival Skill Box Set. Adams Media.
Immler, Felix. 2016. The Swiss Army Knife Book: 63 Outdoor Projects, 3rd Edition, Frances Lincoln.
Kochanski, Mors L.1987. Bushcraft. Lone Pine Publishing
MacWelch, Tim. 2026. Modern Bushcraft. HarperCollins Publishers.
Mears, Ray. 2003. Essential Bushcraft. Hodder & Stoughton.
Taylor, Neil. 2016. Bushcraft: A Wilderness Survival Guide. Createspace Independent Publishing Platform.
