Zona Nyaman Kaum Buruh

Saya senang bila buruh bersatu. Lebih senang lagi bila mampu merebut alat produksi. Konon, mogok buruh yang terjadi hari ini (3 Oktober 2012) adalah terbesar di Indonesia dalam kurun waktu 47 tahun terakhir (Berdikari Online).

Apakah ini sebuah kemanjuan, saya lebih memilih bersikap skeptis. Ukurannya tidak bisa hanya mengandalkan pada kuantitas. Kalaupun secara teoretis jumlah massa bisa dijadikan tawar-menawar, bahkan tekanan terhadap penyelenggara negara, hasil akhirnya akan ditentukan oleh seberapa besar mampu mengancam stabilitas kekuasaan. Jika ancaman investor (dalam dan luar negeri) lebih membahayakan posisi kekuasaan, tentu penyelenggara negara akan membebek pada kepentingan investor.

Itu belum termasuk faktor aktor-aktor politik yang terlibat dan berkepentingan terhadap kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Dari pihak buruh maupun bukan; “penumpang gelap” ataupun bukan. Sangat mungkin yang terjadi adalah negosiasi antar aktor politik. Kekuatan massa, lagi-lagi hanya dijadikan alat transportasi menuju kekuasaan.

Hal seperti itu sangat mungkin terjadi selama kaum buruh secara individual belum mampu melepaskan diri dari zona nyamannya. Punya pekerjaan, ada penghasilan, bisa memenuhi kebutuhan makan, bisa mencicil sepeda motor, bisa bayar uang sekolah anak, adalah zona nyaman kaum buruh kebanyakan. Soal mencukupi atau tidak menjadi isu lain.

Buruh dan siapapun Anda akan menolak diperah dan diperkuda. Tapi, dalam kenyataan, kemampuan untuk menolak secara aktual bergantung pada seberapa mampu menghadapi kemungkinan hilangnya zona nyaman yang kita miliki. Kehilangan zona nyaman adalah hal yang paling ditakuti siapapun, sekalipun zona nyaman yang ada tak memberi kepuasan cukup layak dalam hidup.



Comments are closed.