Takluk

Mereka yang secara material hidup nyaman di Jakarta, bukan berhasil menaklukkan Jakarta. Justru sebaliknya, ditaklukkan Jakarta. Sama halnya dengan mereka yang hidup miskin di Jakarta. Keduanya sama-sama membebek pada realitas Jakarta yang dianggap sudah (seharusnya) demikian adanya.

Mereka yang berumah mewah di kawasan elite Jakarta maupun mereka yang berada di kolong jembatan memiliki konsep zona nyamannya masing-masing. Zona nyaman yang hidup dalam persepsi dua kelompok masyarakat yang diametral itu adalah hasil penaklukkan Jakarta. Bahwa realitas yang ada harus diterima secara apa adanya (taken for granted).

“Ini Jakarta, man. Kalo lo gak ikut aturan main dan ritmenya, lo gak bisa hidup,” kata seorang pemuda pada kawannya. Sebuah pernyataan lugas, bahwa kita harus tunduk pada realitas Jakarta. Pada nilai-nilai, kecenderungan dan aturan main yang disepakati umum. Legal atau tidak legal, baik atau buruk tak jadi soal. Jika Jakarta menganggap sikut kanan-kiri sebuah kewajaran, maka jadilah tukang sikut kanan-kiri yang piawai. Jika jilat sana-sini adalah cara untuk bertahan hidup di Jakarta, maka jilatlah semua yang bisa dijilat untuk memperoleh keuntungan.

Gue tahu itu memang gak bener. I see. Sadar banget. Tapi, mau gimana lagi. Udah iklimnya begitu, bro. Beruntunglah nasib gue gak seburuk mayoritas penghuni Jakarta,” kata seorang kawan yang biasa main pintu belakang untuk meloloskan proyeknya.

Ya namanya juga Jakarta, mas. Kehidupan di sini kan keras. Jadi, masih beruntung bisa hidup dan punya tempat berteduh meski di kolong jembatan atau di kampung kumuh pinggir kali,” kata seseorang pemuda lain mengemukakan pandangannya tentang kehidupan di Jakarta.

Pernyataan pertama dan kedua mengamini cara apapun harus ditempuh demi bertahan hidup dan meraih banyak materi di Jakarta. Pernyataan kedua mengamini realitas Jakarta yang timpang dan kemiskinan sebagai hal yang sudah selayaknya diterima. Bahkan (tragisnya) diterjemahkan sebagai keberuntungan. Ketimpangan, kaya dan miskin diterima sebagai kenyataan yang memang wajar adanya. Ketiganya takluk pada anggapan bahwa realitas Jakarta adalah sunnatullah (ketentuan absolut dari Tuhan). Jadi, terimalah.

Kaum kaya menerima penaklukkan Jakarta dalam kelimpahan. Kaum miskin menerima penaklukkan Jakarta dalam kekurangan. Suka atau tidak, itu kenyataan, meski tak semua penghuni Jakarta begitu rupa (?)



Comments are closed.