Street Fashion Photography, Sebuah Tanggapan

Saya tergelitik oleh pernyataan Silvia Amanda A., pengajar fotografi Universitas Trisakti yang menyebutkan bahwa salah satu kendala street fashion photography adalah perbedaan budaya dengan negara luar (Barat) yang (dia anggap) lebih maju dan bebas, serta iklim yang berbeda (Lika-liku Street Fashion Photography di Indonesia, Detik.com, Kamis, 07/03/2013 18:12 WIB).

Selanjutnya dia mengatakan, “kalau di sini, kita lihat yang ada orang turun dari Kopaja, gak ada yang turun dari Limo. Dan di sana sudah biasa pake coat dan boot saat winter, kan aneh kalau dipakai di sini.”

Itu Bukan Kendala

Saya tergelitik karena beberapa hal. Pertama, perbedaan budaya tidak ada relevansinya dengan street fashion photography. Perbedaan gaya busana orang Indonesia dan orang-orang Barat, sama sekali bukan kendala. Justru pada titik itulah nilai penting street fashion photography. Mendokumentasikan gaya aktual yang ada di jalanan (bukan di catwalk atau runway peragaan busana). Apapun gaya seseorang, melawan arus atau tidak, menohok pakem fashion atau tidak, jika menurut pandangan si fotografer layak didokumentasikan, tak ada yang bisa menyalahkan itu. Bukan super model yang dilahirkan street fashion photography, tapi street star. Siapapun dia, apapun pakaiannya, bisa menjadi street star.

Kedua, konteks sosial street fashion photography bukan soal gaya busana Barat dan non-Barat, dimana Barat dipandang lebih maju dalam urusan fashion. Street fashion photography bukan soal maju dan terbelakang. Justru sebaliknya. Street fashion photography memberi cakrawala baru tentang fashion yang selama ini cenderung didikte majalah-majalah mode yang di-endorse merek-merek tertentu.

Ketiga, titik pijak street fashion photography adalah personalitas dan keotentikan seseorang bergaya busana. Karena itu, menjadi aneh dan menggelikan ketika Silvia Amanda mengindentikkan street fashion photograhy dengan gaya busana Barat. Sehingga menganggap ketiadaan gaya busana Barat di orang-orang Indonesia sebagai kendala street fashion photography.

Pun bukan soal bebas dan tidak bebas dalam bergaya busana. Apalagi menuding perbedaan gaya busana karena iklim sebagai kendala street fashion photography. Sungguh tidak masuk akal jika seorang fotografer berharap mendapatkan gambar orang mengenakan coat dan sepatu boot musim dingin melenggang di tengah terik matahari Jakarta. Itu sih bukan kendala iklim, tapi kebodohan si fotografer. Sama tidak masuk akalnya dengan mengharapkan mendapatkan gambar orang mengenakan kebaya-batik dan kelom geulis di tengah musim dingin kota New York.

Soal Citarasa dalam Street Fashion Photography

Saya setuju dengan Silvia Amanda bahwa untuk menekuni street fashion photography menuntut adanya taste dari si fotografer. Tapi, saya tidak setuju jika diimbuhi menjadi “taste yang bagus”.

Mengapa? Pertama, citarasa itu tidak bisa digeneralisasi. Bagus menurut saya belum tentu bagus menurut orang lain. Itu tidak bisa dipaksakan. Citarasa bergantung pada kelas sosial dimana seseorang berada.

Kerja seorang fotografer street fashion adalah mengambil gambar gaya busana seseorang yang menurut penilaian si fotografer itu sendiri (subjektif) layak didokumentasikan. Apapun keputusannya tidak bisa disalahkan (dengan ukuran baik dan buruk). Citarasa si fotografer selesai di dirinya. Apakah kemudian karya fotonya mampu menginspirasi gaya busana banyak orang atau tidak, itu di luar kendali si fotografer. Keputusan itu ada di tangan orang-orang yang mengapresiasi hasil buruan kameranya.

Kedua, street fashion photography adalah bagian dari foto jurnalistik. Kerja fotografer adalah merekam fakta yang ada. Tentu tidak bebas nilai. Namun, apakah fakta itu dinilai baik atau buruk, bergantung pada penilaian masing-masing orang. Berbeda dengan foto fashion di majalah-majalah mode yang di-endorse produsen busana tertentu. Di sini tidak bicara fakta, tapi apa yang seharusnya ada untuk tujuan pemasaran/iklan.

Kendala dan Tantangan yang Sesungguhnya

Kembali ke soal kendala untuk menekuni street style photography di Indonesia. Menurut saya, kendala paling besar adalah adanya larangan memotret di kawasan dan tempat-tempat tertentu. Itu saya rasakan terutama di Jakarta. Tempat-tempat dimana banyak orang yang menurut penilaian subjektif saya menarik untuk diambil gambarnya rata-rata memberlakukan larangan memotret. Kawasan Epicentrum Taman Rasuna misalnya. Di kawasan ini kita harus memeroleh surat ijin untuk memotret. Padalah di sini ada banyak gaya busana yang menarik untuk didokumentasikan. Kondisi seperti itu sangat tidak nyaman meski sudah mengantongi surat ijin. Setiap ada kesempatan memotret selalu diusik oleh kedatangan satpam yang mengingatkan soal larangan memotret dan keharusan menunjukkan surat ijin pemotretan.

Apalagi di mall (di dalam maupun luar). Kamera profesional dilarang. Hanya kamera poket yang bisa digunakan. Ini berlaku hampir di setiap mall di Jakarta. Lucunya, ketika saya tanya staf management building salah satu mall besar di jalan Letjen S. Parman, Jakarta tentang apa yang dimaksud dengan kamera profesional, jawabannya adalah kamera yang menggunakan tripod. Nah lho! Absurd, bukan?!

Kendala lainnya adalah ketidaktahuan orang tentang fashion blog. Di saat kita meminta ijin untuk memotret seseorang, kemungkinan besar orang itu akan bertanya untuk apa. Bila kita jelaskan bahwa fotonya untuk dipublikasikan di blog, tidak sedikit orang mengerutkan kening tak mengerti. Sehingga kita harus memberi penjelasan yang cukup meyakinkan tentang apa itu fashion blog. Bila tidak mau berpanjang lebar, jawaban yang relatif mudah dicerna adalah, “untuk dipublikasikan di internet”. Berdasarkan pengalaman, jawaban itu cukup ampuh, sehingga kita diijinkan untuk mengambil gambarnya.

Selain kendala, untuk menekuni street fashion photography kita ditantang uji nyali, luwes dan percaya diri. Ketika kita menemukan seseorang yang menarik untuk difoto, jangan pernah menghampirinya dengan ragu-ragu dan tidak percaya diri. Jika ragu, jangan diteruskan. Bahasa tubuh yang tidak percaya diri kemungkinan besar akan ditanggapi dengan keraguan juga, bahkan kecurigaan, sehingga kita kehilangan kesempatan mengambil gambar.

 


Comments are closed.