Siang di Halte GOR Sumantri

Jakarta, pukul 14.15 WIB. Matahari begitu menyengat. Saya tengah bergegas menuju halte bus way GOR Sumantri. Baru sampai di muka Bakrie Tower badan saya sudah terasa basah. Keringat mulai menembus baju. Padahal belum setengah kilometer saya melangkah.

Sebenarnya ada alternatif untuk menghindari panas. Naik shuttle bus yang biasa mengitari kawasan Epicentrum. Tapi lajunya terlalu gontai dan berputar-putar. Sudah teruji, langkah shuttle bus kalah cepat dibanding laju kaki saya.

Panas terus menyengat. Saya mulai melangkah tanjakan jembatan menuju halte bus way. Semakin terasa panas. Namun masih bisa lega karena halte bus way tampak lengang. Hanya ada satu calon penumpang yang tengah menunggu. Ini bukan jam sibuk. Saya tidak harus mengantri atau berdesakan masuk ke dalam bis.

Tetapi, ups, tiba-tiba saya disenggol orang dari belakang menjelang tiba di loket pembelian tiket.

Sorry,” kata dia tanpa menoleh. Terus melaju ke loket tiket.

Selesai membeli tiket, dia pun bergegas dan tampak terburu-buru menuju ruang tunggu penumpang.

Apa yang hendak dia kejar? Toh bisnya juga belum datang. Tidak masuk akal!

Saat bis berhenti si penyenggol langsung berdiri di depan pintu bis, hendak menerobos masuk. Tidak hirau bila keberadaannya menghalangi penumpang yang hendak keluar.

Lagi-lagi tidak masuk akal buat saya.

Ketidaksabaran si penyenggol berbuah buruk. Dia dibentak seorang ibu yang hendak keluar bis. Terusiklah perhatian orang.

Tanpa ekspresi dia menyingkir. Kedua tangannya tak lepas memegang ponsel “sejuta umat”.

Kesialannya belum selesai. Saat dia melangkah memasuki bis, kakinya tersandung bibir pintu bis bagian bawah. Tangannya yang asyik memegang ponsel refleks mencari pegangan. Beruntung dia berhasil meraih pegangan pintu bis. Dia tidak sampai jatuh tersungkur menghantam penumpang yang berdiri di dekat pintu. Tapi sial ponselnya lepas dari genggaman. Terlempar menghantam pijakan bis lalu mental jatuh ke jalur bus way bagian dalam.

Dia buru-buru membalikkan badannya. Keluar dari bis. Tampangnya cemas.

Bis yang diburunya kini melaju. Meninggalkannya dalam keadaan risau.

Setelah melongok-longok ke jalur bus way dan menemukan letak jatuh ponselnya, dia melompat ke bawah, memasuki jalur bus way. Tindakan berbahaya, pikir saya.

Si penyenggol dengan sigap meraih ponselnya, lalu menyeberang ke gerbang kawasan Epicentrum. Apa yang dilakukannya kemudian, tak sempat saya perhatikan. Bus way menuju Ragunan yang saya tunggu sudah datang.



Comments are closed.