Saya dan Internet (2)

mIRC

Saya kira generasi yang aktif berinternet sejak 1990-an mengenal mIRC (Internet Relay Chat). Sama seperti Yahoo Messenger, berfungsi sebagai alat komunikasi antarpengguna internet.

Pada masa itu mIRC cukup populer dibanding Yahoo Messenger atau MSN. Setidaknya untuk pengguna internet di Indonesia. Namun, popularitasnya terus merosot, tergusur Yahoo Messenger. Salah satu faktornya mungkin karena teknologi mIRC tidak banyak mengalami perkembangan. Begitu-begitu saja di saat perangkat lunak lain sudah melakukan banyak inovasi. Sejak awal mIRC hanya men-support komputer berbasis Windows. Beberapa programmer sudah mencoba membuat jembatan agar bisa dioperasikan di komputer non-Windows. Tapi itupun tampaknya tidak membawa banyak hasil.

Saya cukup akrab dan intensif menggunakan mIRC antara 2000-2003. Kanal tempat saya biasa nongrong adalah #Filsafat. Orang-orang yang aktif di kanal ini kebanyakan pelajar universitas tingkat enam ke atas. Kebanyakan dari mereka adalah pelajar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara dan Universitas Katholik Parahyangan. Pimbicaraan banyak mengulas pemikiran Mazhab Frankfurt, budaya pop, anarkisme, anarko sindikalisme, dan feminisme. Bahasan tentang Marxisme, khususnya pemikiran Marx dan Engels malah sangat sedikit. Hanya disinggung sekilas-sekilas saja.

Dari kanal ini pula beberapa orang anggotanya sempat bertandang ke warnet tempat saya, di Jatinangor. Komunikasi di internet berlanjut ke dunia nyata. Dari situ pula terbentuk kelompok diskusi Utopia (sekitar tahun 2001-2002). Sempat membuat seminar tentang Mazhab Frankfurt di Bandung. Seingat saya, kelompok ini sempat menghadirkan Fransisco Budi Hardiman, pengajar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.

Ada tiga nama yang sangat saya ingat: Marmel (Maria Melinda), Uus dan Monang (Hamonangan Panjaitan). Kecuali Marmel dan Monang yang sempat bertemu kurang lebih empat tahun lalu, saya tidak pernah mendapat kabar keberadaan Uus. Ada yang menyebutkan dia di Vietnam. Benar tidaknya, entah.

Internet adalah alam liar yang membuka celah orang untuk lebih jujur membuka diri sebagai manusia. Selain kita bisa mendiskusikan pengetahuan dan mengasah otak, melalui mIRC pula kita bisa mendapat ruang keliaran sebagai manusia (dalam konsepsi biologi). Tentu tidak semua pengguna mIRC seperti itu. Namun, beberapa kanal memungkinkan untuk itu.

“asl, please?” “f or m?”, “real name?” adalah default kata pembuka. Jika komunikasi berjalan lancar, “pic, please”, “ur email?” “contact number?” Selanjutnya, terserah Anda.

Mungkin Anda yang tengah membaca punya pengalaman “seru” melalui mIRC?

mIRC bagi saya paling tidak, menyisakan catatan baik dan buruk. Sisi baiknya bisa bertemu orang-orang yang memiliki perhatian sama, kegelisahan sama dan pikiran yang terbuka, seperti kawan-kawan yang saya temui di kanal #Filsafat. Sisi buruknya, terkadang saya memanfaatkan teknologi itu untuk melepas keliaran. Pernah juga iseng ngerjain orang dengan mengaku perempuan. Sebaliknya, pernah juga dicaci-maki perempuan yang merasa sudah menjadi pacar saya. Ya, begitulah… Kadang ada saatnya kita berbuat asam untuk sampai ke tahap manis. Ini filosofi pembenaran judulnya. 🙂

***

Dari Kebutuhan menjadi Kegemaran dan Matapencaharian

2004 adalah momentum awal penentu Saya menjalani keseharian dengan internet dan website. Paling tidak sampai saya merangkai kata untuk tulisan ini. Di domain inilah saya memeroleh matapencaharian untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tak pernah terbayangkan sebelumnya. Apalagi mencita-citakannya.

Sejak saya cukup sadar untuk menentukan cita-cita, hanya ada dua pilihan yang saya buat: menjadi peneliti sosial, atau mengajar. Bekerja di perusahaan besar bergengsi dengan gaji besar? Tak pernah terbayangkan. Apalagi menginginkannya. Malah phobi. Bukan perusahaan keren yang sala lihat, tapi penjara yang mengalienasi eksistensi manusia. Menjadi pegawai negeri? Agaknya masih dipertimbangkan sejauh menjadi pengajar. Tapi belakangan, bersyukur juga tidak pernah melampauinya. Sama saja, itu penjara. Feodalisme, patronase, sentimen kedaerahan, sentimen agama tampak begitu vulgar mewarnai kehidupan beberapa perguruan tinggi di Indonesia.

“Apa yang Anda tulis itu benar. Tapi, ini bukan Berkeley. Anda tidak bisa menulis seperti itu!” Demikian pernyataan seorang pengajar sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung. Betapa menusuknya saya mendengar itu. Bukankah itu sama dengan pamer sesat pikir dan kebodohan?!

Menjadi pengajar di perguruan tinggi swasta, menjalani field work di desa-desa sudah saya lampaui meski berakhir dengan ketidakpuasan dan kecewa. Ruang hidup yang kita pijak bukan alam hampa. Seperti kata Marx, “kita tidak selalu bisa mencapai kedudukan yang kita yakini merupakan panggilan diri kita.” Karena, “hubungan-hubungan kita dalam masyarakat pada taraf tertentu sudah ditentukan sebelum kita berada pada posisi untuk menetapkannya.”

Namun demikian, saya bersyukur memiliki kesempatan bekerja di Akatiga selama kurang lebih 6 tahun. Terlepas dari beberapa kekurangannya, bagi saya Akatiga adalah tempat belajar banyak hal dan mengenal berbagai karakter orang. Saya banyak dikondisikan untuk memasuki wilayah meta theory agar tetap sadar dan bisa mengkritisi tendensi penelitian dan gerakan sosial yang tampak indah di permukaan tapi akan bermuara pada hal-hal yang tak diharapkan.

Pelajaran “sadar” itu saya peroleh pula dari Gunawan Wiradi. Guru penelitian sekaligus kawan berukar pikiran.

Melalui Gunawan Wiradi saya mengenal isu agraria dan keagrariaan di Indonesia. Belum banyak pengetahuan yang saya gali dari dia, tapi cukup menyadarkan tentang pentingnya masalah itu.

Dari kesadaran itulah pada 2005 saya berencana membangun sebuah website yang khusus membahas reforma agraria. Ide itu kemudian berkembang ketika berarsiran dengan keinginan saya mengumpulkan lagi kawan-kawan lama yang pada 1990-an aktif berhimpun di Rumah Kiri (rumah fisik).

Membangun website? Siapa yang bisa membantu untuk itu? Berapa biayanya? Setelah bertemu seorang web developer, saya sempat agak pesimis bisa merealisasikan itu. Biaya 4 juta rupiah untuk 5 halaman web statis berbasis html terlalu berat. Lebih dari itu, kebutuhan saya adalah website dinamis dengan halaman tidak terbatas (unlimited).

Apa solusinya? Solusi paling gampang yang saya lakukan waktu itu adalah membuka akun di Blogspot (sebelum diakuisisi Google). Untuk itu saya diajari Mei (Mellyana Frederika) yang sudah lebih dulu bermain-main dengan Blogspot.

Jadilah Blogspot Rumah Kiri (rumahkiri.blogspot.com). Mulailah saya mengelola konten. Komunikasi dengan kawan-kawan lama pun mulai terjalin. Bahkan bertambah dengan kawan-kawan baru.

Sementara saya mengelola Rumah Kiri versi Blogspot, saya terus berselancar di internet. Mencari cara dan petunjuk membuat website yang mudah. Dalam arti, bisa dilakukan oleh orang non-programmer seperti saya. Bertemulah saya dengan beberapa content management systems (CMS), seperti Mambo, Drupal, WordPress, Endonesia, dan belakangan Joomla.

Tentu saja saya bingung bagaimana memulainya. Meski ada tutorial dan banyak forum yang membahasa itu, sebagai pendatang baru saya tetap linglung. Apa itu localhost, apache, mySQl, debian, css, html dan seterusnya?

Rasa ingin tahu dan niat membuat sesuatu yang mendorong saya terus bertanya dan memburu informasi. Para technical support MWN-lah yang sering saya repotkan dengan banyak pertanyaan. Terkadang mereka malah senang jika ditanya-tanya tengah malam, karena bisa mengusir kantuk mereka saat piket server. Beberapa diantaranya malah secara sukarela membantu mengatasi beberapa error yang muncul, meskipun itu di luar wilayah kerja mereka. Mereka bisa saya tanyai, karena saya menyewa hosting dan domain di MWN.

Singkat cerita, dengan pengetahuan seadanya saya mengembangkan Rumah Kiri [dot] Net. Layout-nya hanya dua modul: mainpage dan left-module. Jika mengikuti keinginan, jelas ingin lebih baik dari itu, tapi kapasitasnya baru sampai taraf itu. Untuk sementara pasrah menerima keadaan.

“Yang penting jalan dulu, sambil terus dikembangan,” kata Mei. Dia adalah penyemangat dan orang yang setia menjadi pendengar kegelisahan saya yang ngotot berbuat sesuatu melalui internet.

“Buat aku yang penting layout-nya putih,” pesan Mei.

Putih dengan banner merah, begitulah jadinya Rumah Kiri [dot] Net. Karakter warna itu terus dipertahankan hingga sekarang meski sudah beberapa kali berganti tampilan.

Selain Rumah Kiri [dot] Net, saya pun mendirikan portal citizen journalism (Mediabersama [dot] Com) bersama Mulyani Hasan. Waktu itu dia masih aktif menjadi kontributor Pantau. Sayang terbengkalai dan belum direstorasi hingga sekarang. Itu pekerjaan rumah yang terus menghantui saya.

***

Sedikit demi sedikit pengetahuan website saya bertambah. Awalnya adalah kebutuhan untuk mempublikasikan informasi, lama-lama menjadi kegemaran. Tanya sana-sini, baca ini-itu soal website tak henti saya lakukan. Hingga saya jatuh cinta pada Magento, sebuah platform ecommerce andal yang dipakai brand-brand dunia.

Akhirnya di 2008 sampailah saya pada titik memutuskan keluar dari tempat kerja dan menjadi freelancer pengembangan website. Untuk menjembatani itu saya dan Mei mendirikan Melsamedia. Tidak banyak yang kami kerjakan, tapi selalu ada. Belum terpikirkan untuk mengembangkannya lebih besar, kecuali mampu membuat satu rumusan baru produk aplikasi website yang belum, atau masih sedikit dikembangkan orang.

Kini, internet dan website bagi saya, bukan hanya kebutuhan dan kegemaran, juga matapencaharian.

***

Saya dan Internet (1)

Kritik dan saran bisa disampaikan melalui form komentar di bawah, maupun via email ke sadikin@melsamedia.com.



Comments are closed.