Saya dan Internet (1)

Internet di rumah mati. Berkali-kali menelepon pihak ISP (Internet Service Provider) tidak membawa hasil. Mungkin karena hari Minggu, petugas lapangannya agak santai. Ditambah hujan yang terus mengguyur Bandung. Lengkap sudah masalah saya hari ini. Padahal saya harus mengirimkan satu proposal ekstranet, dan meneruskan beberapa pekerjaan utama, termasuk menyelesaikan review situs London Fashion Week dan Stylemint. Keterputusan koneksi internet menjadi masalah serius, karena sebagian besar pekerjaan saya mensyaratkan itu.

Untuk keperluan mengirim email hanya warnet solusinya. Bisa saja saya menggunakan HP (hand phone). Sayang, kabel data untuk mentransfer dokumen raib entah kemana. Bergegaslah saya ke warnet. Satu masalah bisa terselesaikan.

Sekembali ke rumah saya mencoba bekerja di server lokal (localhost). Tanpa koneksi internet malah membawa kesal, karena font-font website yang sedang saya kerjakan mengambil source dari Google Font. Jika dibuka tampilannya jadi sedikit aneh dan loading-nya lama, menuntut koneksi. Minat saya untuk bekerja pun segera hilang.

Dalam situasi seperti itu tiba-tiba saya ingin menuliskan pengalaman berinternet. Tiga belas tahun mungkin belum terlalu panjang, tapi banyak hal yang saya dapatkan: baik dan buruk. Mudah-mudahan saya cukup jujur untuk mengungkapkannya.

Berawal dari Wordstar 7 dan Komputer Bekas

Di antara kawan-kawan seangkatan kuliah, saya adalah orang paling terbelakang untuk urusan komputer. Disaat kawan-kawan sekelas saya menulis paper tugas menggunakan Wordstar 5 atau 6 (sekitar 1990 akhir), saya masih setia dengan mesin tik berstiker “Generasi JaguarMajalah Hai. Lebih tepatnya, diharuskan setia karena tak punya komputer. Kenapa tidak ke rental komputer? Ah, menyalakan komputer pun saya bingung dan butuh biaya sewa. Lebih baik memanfaatkan mesin tik. Toh yang penting isinya, dan masih bisa dibaca. Beberapa kawan kadang suka meledek paper saya yang sering blepotan tip-ex. Meski sudah menggunakan tip-ex kertas, tetap saja tip-ex, meninggalkan bekas.

Saya baru memiliki komputer menjelang penulisan skripsi. Itupun komputer bekas yang saya beli dari Budi ‘Aconk’, kawan sekelas. Harganya 750 ribu rupiah. Dengan harga itu saya memiliki satu set komputer lengkap: CPU, monitor, keyboard dan printer dot matrix (saat bekerja, suaranya menjerit-jerit terdengar tetangga dan lambatnya minta ampun) plus stabilizer. Tapi saya sangat bahagia. Sungguh bahagia.

Kebahagiaan itu tidak pudar sedikitpun meski setiap kali hendak menyalakan komputer, saya harus mematikan semua lampu dan benda yang menggunakan listrik. Maklum, daya listrik di rumah kami hanya 450 watt. Pertama-tama CPU yang dinyalakan. Setelah itu monitor.

Agar bekerja di komputer aman, tidak mati tiba-tiba, saya harus berkoordinasi dengan Ema dan Bapak. Memberi tahu mereka agar tidak menyalakan televisi atau setrika secara tiba-tiba sebelum saya menyimpan data pekerjaan ke disket. Jika tegangan listrik sedang baik, televisi dinyalakan pun aman-aman saja. Tetapi jika sedang buruk, meski televisi kami hanya 14 inci (konsumsi listriknya 50 watt), sudah bisa membuat semua aliran listrik di rumah mati.

Kin…, tv dihurungkeun bisa?” (Kin, tv dinyalakan bisa?) teriak Bapak. Atau, “Ema dek ngistrika…(Ema mau menyetrika…)”
Ke sakedap. Sok...(Tunggu sebentar. Silahkan…),” jawab saya.

Jika menggunakan parameter tanda-tanda orang modern versi teori modernisasi klasik, sejak saya memiliki komputer saya sudah menjadi sebagian manusia modern: memiliki dan menggunakan komputer.

Urang geus jadi manusia modern, ‘Wan” (Saya sudah menjadi manusia modern, ‘Wan), kata saya suatu ketika di tempat kostnya Iwan ‘Duck’, kawan sekelas yang kerap saya singgahi.

Heueuh palebah komputer mah, ari ciri nu lain? Anger we masih tradisional. Budaya peasant” (Betul kalau hanya urusan komputer, bagaimana dengan ciri-ciri yang lain? Tetap saja masih tradisional. Budaya petani.)

Meledaklah tawa kami.

Meski sudah memiliki komputer, secara teknologi saya tetap tertinggal dibanding kawan-kawan lain. Di saat saya bangga menggunakan perangkat lunak pengolah kata Wordstar 7, kawan-kawan yang biasa meledek mesin tik saya sudah menggunakan Windows versi 1.1 (atau 1.0?).

Wah, ini benar-benar gambaran teori sistem dunia. Ada negara pusat dan periferi. Dan saya adalah bagian periferinya. Apalagi bila sudah dikait-kaitkan dengan tempat tinggal saya di Ujung Berung (pinggiran kota Bandung). Lengkap sudah sebagai negara periferi. Ledekan seperti itu kerap menjadi bahan tertawaan kami. Masa-masa itu tidak ada kesal, apalagi marah. Sepertinya hanya tawa yang kami punya.

Sebelum memiliki komputer, orang yang paling berjasa mengajari saya komputer adalah Mono (Tri Purnomo), kawan sekelas. Saya pasrah saja setiap kali diajari sekaligus diledeki. Saya lupa tahun persisnya.

Kawan lainnya yang membantu adalah Oki ‘Ambredo’ (Trisatya) yang kerap meminjamkan komputernya dipakai sebelum saya memiliki komputer sendiri. Dan Oki adalah orang yang membuatkan akun email saya untuk pertama kalinya. Maklum, waktu itu Oki sudah memiliki koneksi internet di rumahnya. Secara teknologi sudah jauh lebih maju.

Jujur saja, pada awalnya saya keder dengan komputer. Dan itu terbukti ketika saya terlibat dalam satu penelitian bersama dosen, tanpa ba-bi-bu disodori komputer Windows versi 1.1. Sungguh kelimpungan. Beruntunglah penanggungjawab laboratorium komputer Pusat Penelitian Unpad berbaik hati mendampingi saya beberapa saat.

Saya mulai percaya diri menggunakan komputer berbasis Windows setelah keluar bekerja dari sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung. Tempat kerja itu seolah menjadi ajang mengasah keahlian menggunakan komputer. Pada masa itu pula saya membeli laptop bekas merek Compaq berbasis Windows 1.1. Saya beli 500 ribu rupiah dari Tanta, adik kelas di Antropologi Unpad. Kok murah? Ya, maklum saja, dudukan monitornya sudah patah sebelah dan baterenya sudah mati. Setiap kali saya menggunakannya harus diganjal korek api, dan harus selalu terkoneksi ke sumber listrik. Tak apa, pikir saya, yang penting masih bisa dipakai.

Dengan modal laptop itu saya bisa menyimpan banyak informasi dari internet. Saya berhasil mengumpulkan banyak bahan bacaan yang sukar diperoleh di perpustakaan atau toko buku, waktu itu. Terbentang mulai dari ilmu sosial, ekonomi, politik, hingga filsafat. Ada ribuan file yang berhasil disimpan. Diantaranya tulisan-tulisan Karl Marx dan Engels, Frankfurt School and the Next Generation, Ivan Illich, artikel-artikel the Illumination, Paulo Freire, Hegel, Deschooling Society, Anarkisme dan banyak lagi. Bahan-bahan Bahan-bahan itu masih saya simpan hingga sekarang. Sebagian sudah disortir, dikompilasi dan dicetak terbatas untuk bahan diskusi.

Sejak 1999 tempat bermain saya selain toko buku adalah warung internet. Saya bisa menghabiskan waktu 5-10 jam di warnet dengan belasan disket mini untuk menyimpan dokumen. Waktu itu belum populer penggunaan external hard disk. Flash disk pun belum ada masa itu. Gambar-gambar porno tidak pernah saya simpan khusus, cukup dilihat di monitor. Beberapa yang disimpan biasanya tidak berumur lama.

Memasuki 2000 kebiasaan berinternet semakin intensif, karena diberi tanggungjawab mengelola warnet oleh salah seorang sepupu saya. Pagi sampai sore ngantor, petang sampai tengah malam, kadang-kadang sampai subuh berselancar bebas di internet sambil melayani pelanggan warnet. Jika saya mengambil konten website, bukan cuma satu dua halaman, tapi seluruh isi website-nya saya eksploitasi dengan perangkat lunak khusus untuk itu. Don’t Panic-nya Coldplay adalah lagu yang paling bisa mengusik ingatan saya pada masa-masa itu. Lelah, senang, sedih, khwatir, meledak-ledak bercampur aduk.

***

Saya dan Internet (2)

Kritik dan saran bisa disampaikan melalui form komentar di bawah, maupun via email ke sadikin@melsamedia.com



Comments are closed.