Namanya Korel

Dia perempuan. Duduk di bangku kelas 2 SMA. Masa itu, sekitar 1990-an. Meski baru di SMA dia sudah mengenal dan membaca Ivan Illich, Paulo Freire dan Antonio Gramsci. Keluarganya cukup memanjakan dia dengan buku. Buku-buku original, yang bagi kebanyakan orang sukar memerolehnya.

Kawannya tidak banyak. Tapi yang sedikit itu benar-benar kawan. Bukan basa-basi. “Kawan” sekolah yang kenal sebatas bersapaan di koridor sekolah tak masuk dalam kategori sebagai kawan, meski bukan juga lawan.

Beberapa bulan terakhir dia tengah gencar melawan pandangan dominan bahwa IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) lebih superior dari IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Di ranah genealogi ilmu pengetahuan, ini adalah kisah klasik. Tapi seperti yang bisa dia rasakan, peperangan itu terus berkecamuk di lingkungan sekolahnya. Hingga akhirnya aktual dan melibatkan hampir semua siswa.

“Sebagai tenaga pengajar keliru besar bapak bersikap berat sebelah dan melecehkan. Meninggikan IPA dan meremehkan IPS. Sangat picik mengganggap pelajar jurusan IPS calon pengangguran. Semua calon pengangguran kok. Siapa yang bisa menjamin bisa kerja usai menyelesaikan sekolah?” kritik dia di ruang guru.

“Kemungkinan paling bagus calon buruh! Dan itu sama saja dengan anak IPA! Semua pelajar di sini diarahkan menjadi calon buruh. Sama dengan mereka yang sudah duduk di universitas,” sambungnya.

Di saat yang sama, siswa jurusan IPS sudah berhimpun di lapangan basket. Mengkonsolidasikan diri. Tujuannya, memprotes pernyataan kepala sekolah di upacara bendera yang entah bercanda atau bukan mengatakan siswa jurusan IPS calon pengangguran.

“Jadi maumu apa?” tanya salah seorang guru datar.

“Pak Kepsek harus mempertanggungjawabkan pernyataannya. Tidak perlu meminta maaf.  Karena yang kami butuhkan adalah pemimpin sekolah yang cerdas, bertanggungjawab, dan gak asbun! Pemimpin sekolah yang mengerti soal pendidikan!”

“Eh, jaga mulut kamu!” bentak guru yang lain. Suasana kian memanas.

“Mulut saya?! Mulut Pak Kepsek yang harus dijaga, pak!” balasnya tak mau kalah.

Kisah itu terhenti sampai di situ. Setelah berhasil terbit beberapa nomor, buletin Pelajar Menggugat yang memuat serial Korel dibredel dan dinyatakan bacaan terlarang di beberapa sekolah di Kota Bandung.



Comments are closed.