Naif

Pernahkah terpikir oleh Anda harga satu porsi soto ayam di pinggir jalan setara dengan satu porsi ayam rica-rica di sebuah cafe di salah satu mall di Jakarta? Percayakah Anda harga makanan di pinggir jalan tidak lebih murah dibanding harga makanan serupa di sebuah resto?

Saya tidak dalam posisi sedang membela pedagang kaki lima atau pengusaha cafe/resto. Saya hanya ingin mengajak Anda sedikit “nakal” mencermati realitas di sekeliling kita.

Di Bandung saya sering makan di pinggir jalan. Salah satu makanan yang biasa saya santap adalah soto ayam. Harganya 8-9 ribu rupiah. Dilihat dari nominalnya terasa murah. Tapi setelah dicermati, semangkuk kuah soto dengan ayam swir tipis yang jumlahnya tidak lebih dari sepuluh helai (kurang lebih 1 ounce=28,35 gram), ditambah soun plus sepiring nasi tidaklah murah. Bahkan mungkin mahal. Saya simpulkan demikian setelah membandingkannya dengan harga satu porsi ayam rica-rica di sebuah cafe di Jakarta. Secara nominal lebih tinggi dibanding soto ayam pinggir jalan: 35 ribu rupiah. Tapi dengan harga itu saya memeroleh kurang lebih 100 gram daging ayam dan satu porsi nasi.

Jika kita perluas perbandingan dengan memasukkan aspek tempat, kebersihan, dan pelayanan, jelas cafe/resto lebih nyaman dan bersih dibanding warung tenda soto ayam dan pecelele di pinggir jalan.

Kesimpulan ini bersifat sementara. Untuk mengujinya, saya harus melakukan perbandingan secara lebih ketat dan terukur. Akan lebih baik lagi jika Anda juga mencoba mencermati dan membuat perbandingan serupa. Atau mungkin memperluasnya pada hal-hal lain yang seringkali kita bersikap naif memandangnya.



Comments are closed.