Membaca Marx di Ruang Hampa

Karl Marx bagi orang-orang tertentu dianggap mengagumkan sehingga layak jadi panutan. Tapi bagi yang lain, jangankan menganut, mendengar namanya saja sudah merasa terancam. Hal seperti itu terjadi di Indonesia hingga hari ini.

Marx memang brilian. Tapi memahami pemikiran Marx dengan tepat, tidak mudah. Menerapkannya apalagi. Penyebabnya, kita kerap membaca pemikiran Marx di ruang hampa. Sehingga tak sanggup membedakan mana cita-cita dan realita. Mana mimpi mana kenyataan menjadi gulita. Semakin terjerumus pada kondisi itu, pembenaran-pembenaran atas tindakan yang lantas mengemuka. Gagasan materialistik berubah menjadi gagasan idealistik penuh fatamorgana.

Buruh adalah garda terdepan perubahan. Betul, sejauh kondisi yang dibutuhkan dan mencukupinya tersedia. Hal yang sering luput dari perhatian adalah memahami kedua kondisi itu. Untuk memahaminya memang tidak mudah. Butuh kerja keras dan keuletan. Memahami kondisi bukan atas dasar asumsi dan penggalan-penggalan kisah tak terukur, atau trending berita media massa. Suka atau tidak, harus melakukan riset mikro dan makro.

Menjadikan jejak perjuangan kaum Marxis di Rusia jaman Bolshevik sebagai referensi pembelajaran tidak salah. Tapi menempatkan itu di ruang hampa tanpa menjejakkannya pada realita akan menyesatkan. Sungguh mengerikan bila kesesatan itu meminta korban dari kaum yang katanya hendak dibela.



Comments are closed.