Klik Like, Ideologi ABS dan Title Syndrome

Saya biasa mengklik like icon. Tak hanya di Facebook. Di Pinterest, Stylecaster, Shopcade dan beberapa social pinboard pemasaran yang menekankan kekuatannya pada dukungan pengguna. Jika memang saya suka. Klik like bagi saya adalah ekspresi rasa suka. Benar-benar suka. Tidak yang lain. Siapapun yang posting, kenal atau tidak, saya akan beri tanda suka bila memang saya suka.

“Pelit amat seh ngasih ‘like’?! Cuma tinggal klik. Biar yang posting seneng,” kata seseorang beberapa waktu lalu.

Saya hanya tersenyum. Tak tertarik membahasnya.

Bagi sebagian orang mungkin klik like ditujukan untuk memberi rasa senang dan kepuasan. Bukan atas dasar materi informasi yang dibaginya (teks, gambar atau video). Jadinya seperti “ideologi ABS (asal bapak senang)” jaman Soeharto. Soal suka atau tidak, itu nomor dua. Yang penting orang happy. Karena tujuannya memang memberi rasa senang.

“Terimakasih untuk jempolnya,” demikian komentar balasan yang sering saya baca di list comments banyak pengguna Facebook.

Mereka yang kerap diberi klik like tentu punya catatan baik tentang itu. Suatu saat akan membalasnya dengan klik like lagi. Terjadilah parade “ideologi ABS” di dunia Facebook. Bukan materi informasi yang menjadi inti, tetapi si pembaginya itu sendiri.

Membuat senang orang adalah kebaikan. Tetapi membuat rasa senang dengan asal like bagi saya adalah aneh. Tidak jujur dan semu. Apalagi jika materi informasi yang diberi like itu butuh waktu untuk mencernanya. Bahkan mungkin perenungan mendalam. Contohnya adalah artikel ilmiah panjang dan video.

Suatu waktu saya pernah menyimpan link artikel dan video di wall Facebook. Panjang artikelnya kurang lebih 10 ribu karakter plus spasi. Video yang saya bagi berdurasi lebih dari 15 menit. Tapi singguh aneh, hanya dalam hitungan detik, link saya sudah diklik like beberapa orang.

Saya heran, mampukah orang membaca dan menonton tayangan video sebegitu cepatnya, sehingga mampu memberi kesimpulan “suka” dalam hitungan detik? Atau hanya dengan melihat judulnya sudah bisa membuat kesimpulan (title syndrome) lalu memutuskan ‘suka’? Tidak logis!

Bagi saya, yang lebih penting adalah informasi yang saya bagi—terlepas dari setuju atau tidak dengan muatannya. Bukan tanda like yang didasari “ideologi ABS” dan title syndrome. Berbagi informasi menjadi berarti jika difahami, meski tidak selalu harus diamini.

 



Comments are closed.