Kado Minus Satu Kali ini

DSCF096624 Januari 2013 lalu menjadi penanda masa hidup saya berkurang setahun. Tempo itu saya dan Mei mengunjungi Yogyakarta. Tidak seperti kebiasaan Mei yang banyak menghabiskan waktu dengan membaca dan berenang bila bepergian. Kali ini kami banyak menghabiskan waktu di luar penginapan untuk melihat banyak hal. Mengunjungi Ullen Sentalu, Museum Affandi, Galeri Leksa Ganesha, pantai Parangtritis, dan mengintip matahari terbit dari Candi Borobudur.

IMG_3409Sempat juga bersepeda keliling perkampungan Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul Yogyakarta. Ini memang bagian dari rencana. Karena itu pula kami memutuskan menginap di D’Omah Hotels. Sebuah hotel dengan konsep melebur dengan penduduk desa. Hotelnya sendiri tidak seperti bangunan hotel konvensional. Karena D’Omah pada dasarnya adalah agregasi beberapa rumah penduduk yang dijadikan penginapan. Menginap di sini tak terasa seperti di hotel. Layaknya berkunjung ke rumah kerabat di desa. Seperti rumah biasa saja.

Saat keliling desa kami sempat berbincang-bincang dengan para pembuat batu-bata (botol istilah Jawanya): Nur Rohmadi, Purwanto dan Susanto. Mengingatkan saya pada kerja-kerja lapangan saat masih bekerja di Akatiga.

IMG_3740IMG_3832Di luar rencana, kami pun bersepeda ke makam para raja dan keluarga kesultanan Mataram di Imogiri, Bantul. Itu berkat ajakan pak Ibnu, ayah kandung mas Tatang, pemilik galeri batik tulis Leksa Ganesha. Perjalanan bersepeda kami menempuh jarak kurang lebih 23 km pulang pergi.

Masih di luar rencana perjalanan. Kunjungan kami ke Yogyakarta bersamaan dengan liburannya keluarga Eko dan Ratna. Jadilah kami berangkat ramai-ramai mengunjungi Borobudur, Ullen Sentalu dan Museum Affandi. Sempat juga bertemu dengan keluarga Hafiz, serta kawan lama Mei dan Ratna di ITB, Aryo.

Pengalaman itu saya maknai sebagai kado ulang tahun kali ini. Di luar itu, Mei memberi empat pucuk saputangan batik, kemeja batik tulis dan scarf sutra batik. Mei masih selalu mengingat bahwa di awal dia mengenal saya, saya adalah orang yang terbiasa membawa saputangan. Kebiasaan yang ditularkan bapak. Kebiasaan itu berhenti entah kapan persisnya. Yang jelas setelah saya sering kehilangan saputangan. Entah tertinggal atau tercecer di sembarang tempat.

Saya mensyukuri semuanya. Terimakasih untuk Mei dan orang-orang yang menghiasi hari-hari saya.



Comments are closed.