Inspirasi dari Jember

By , in Jurnal on . Tagged width: ,

Siapa pernah duga Kabupaten Jember, sebuah kota kecil di Jawa Timur bisa dikenal dunia setara dengan New Orleans (Amerika Serikat), Rio De Jeneiro (Brazil) dan Koln (Jerman). Tiga kota karnaval dunia. Keberhasilan itu tidak datang dengan sendirinya. Diraih dengan kerja serius masyarakat Jember dalam mengkreasi satu peristiwa budaya yang dikenal dengan nama Jember Fashion Carnaval (JFC).

Berawal dari rumah mode Dynand Fariz yang menyelenggarakan Pekan Mode Dynand Fariz pada 2001. Selama sepekan seluruh karyawan harus berpakai sesuai dengan trend fesyen dunia. Ide pun berkembang. Setahun kemudian (2002) Pekan Mode Dynand Pariz digelar dengan cara berkeliling kampung dan alun-alun kota Jember. Dari situlah muncul gagasan menggelar JFC yang direalisasikan setahun kemudian (2003), bersamaan dengan Hari Ulang Tahun Kota Jember.

Bagi masyarakat Jember, JFC sudah menjadi semacam pesta rakyat tahunan mereka. Kesan itu saya tangkap saat menyaksikan semangat dan kehebohan masyarakat Jember  berbondong-bondong menyaksikan JFC World Carnival pada 25 Agustus 2013 lalu.

Sejak kurang lebih pukul 9 pagi, 4 jam sebelum acara dimulai, dan sebelum ruas jalan yang dipakai rute karnaval dikosongkan, orang-orang sudah mulai berdatangan. Banyak yang berangkat berombongan. Datang dari berbagai penjuru daerah di Kabupaten Jember dan sekitarnya. Trotoar pun mulai dipenuhi orang-rang yang menggelar tikar dengan perbekalan makanan dan minuman secukupnya. Mereka bersiap menyaksikan kostum unik warna-warni dan lenggak-lenggok peserta JFC di catwalk sepanjang 3,6 km (catwalk terpanjang di dunia). Dimulai dari Alun-alun Kabupaten Jember hingga Gedung Olah Raga (GOR) Kaliwates Jember. Terik matahari pun tak mampu mengusik mereka yang ingin menyaksikan pagelaran akbar itu.

Saya merasakan suasana penuh kehangatan. Ada banyak wajah ceria dan sukacita berbalut rasa penasaran mendalam. Seperti apakah kostum-kostum yang akan tampil dalam peristiwa tahunan kali ini. Ya, sekali dalam setahun! Bukan waktu yang lama memang. Tetapi untuk mendapatkan kemeriahan JFC dan merasakan suasananya langsung tak semudah kita memperoleh tontonan film yang dikemas dalam kepingan DVD (Digital Video Disk).

Bagi saya yang untuk pertama kalinya hadir dan melakukan liputan foto di tempat di mana JFC lahir memberi pengalaman istimewa sarat kesan. Sangat berbeda dengan pengalaman saya ketika mengabadikan penampilan mereka di pagelaran busana Indonesia Fashion Week 2013, Belitung Beach Festival, dan Jakarta Carnaval di tahun yang sama. Semangat, sukacita, kerja keras dan kebersamaan dari orang-orang yang menjadi penyelenggara maupun mereka yang hadir sebatas untuk menyaksikan peristiwa itu lebih terasa geliatnya.

Seorang ibu berkisah bagaimana dia dengan telaten dalam rentang waktu setahun, sedikit demi sedikit mengumpulkan material (baru maupun bekas) untuk mengkreasi kostum yang akan dikenakan anaknya dalam Kids Carnival. Kain warna-warni, potongan kaca cermin, manik-manik, biji kapas bekas tasbih, busa, peci, helm, karung goni, tutup botol, bulu ayam, hingga selimut yang dicat semprot dikreasi sedemikian rupa menjadi kostum-kostum unik dan menarik.

Kecuali soal warna dan tema, setiap peserta yang akan tampil di JFC diberi kebebasan penuh untuk berkreasi. Busana dan tata rias wajah ditentukan sendiri oleh setiap peserta. Begitupun biaya pembuatannya. JFC yang dipimpin Dynand Fariz (Presiden JFC) lebih berperan sebagai pendamping agar kreasi yang dibuat sesuai dengan tema yang diusung.

Tema utama JFC World Carnival 2013 adalah Artechsion (Art meet Technology and Illusion). Terdiri dari tema Tibet, Betawi, Art Deco, Canvas, Octopus, Tribe, Bamboo, Spider, Beetle dan Venice. Tema-tema tersebut diinspirasi dari kekayaan alam (flora dan fauna) serta budaya masyakat Indonesia.

Sebuah proses kreatif yang dikerjakan serius pada saatnya akan membawa hasil baik. JFC yang awalnya hanya dipandang sebelah mata dan tak mendapatkan liputan media nasional, kini bahkan mampu menarik perhatian media internasional serta wisatawan dari dalam dan luar negeri.

Mereka yang gemar melakukan perjalanan dan pecinta fotografi serius umumnya setuju bahwa JFC yang telah berhasil meraih peringkat 4 dunia untuk karnaval terunik dan terheboh setelah Mardi Gras (Amerika Serikat), Rio De Jeneiro (Brazil), dan The Fastnacht (Koln, Jerman) menjadi satu peristiwa yang layak diburu kamera. Seorang fotografer senior dari Jakarta sempat berkata, “belum lengkap seseorang disebut fotografer bila belum pernah mengabadikan JFC.”

Anda boleh tidak setuju dengan pendapat itu. Satu hal yang sudah jelas, ada banyak fotografer yang telah memasukkan JFC ke dalam agenda perburuan foto tahunan mereka. Saya sempat bertemu dengan seorang fotografer kawakan yang sudah 12 kali berturut-turut hadir melakukan liputan foto JFC tanpa bosan. Bertemu dengan pehobi fotografi serius dari Jakarta yang rela menyetir mobil sendiri ke Jember demi mengabadikan JFC. Berkenalan dengan seorang fotografer perempuan dari Belanda yang bertandang ke Jember untuk berburu foto JFC. Di luar mereka, tercatat ada 2.900 lebih fotografer dari dalam dan luar negeri yang berpartisipasi menjadi peserta hunting foto JFC. Sehingga JFC World Carnival 2013, seperti disampaikan oleh Dynand Fariz, berhasil meraih peringkat pertama liputan foto karnaval dunia, dan peringkat kedua liputan berita karnaval dunia.

Berkat kerja keras dan terus berinovasi, JFC yang saat pertama kali digelar tak memiliki media area untuk para fotografer itu, kini telah mampu menarik perhatian juru foto dari berbagai negara. Berbaur dan duduk bersama memberi apresiasi dan mengabadikan hasil kerja keras JFC, masyarakat Jember, dan tentu saja pemerintah daerah setempat yang telah memberi dukungan penuh atas ajang budaya yang sudah berlangsung selama 12 tahun itu.

Saya cukup yakin keberhasilan JFC menjadi icon karnaval modern Indonesia yang telah membawa Kabupaten Jember dikenal di dunia dapat pula diraih oleh setiap daerah di Indonesia. Keragaman dan keunikan alam serta budaya masyarakat Indonesia yang tersebar dari Sabang hingga Marauke adalah kekayaan dan sumber inspirasi melimpah bagi lahirnya aneka rupa karya seni dan budaya yang layak diapresiasi masyarakat dunia. Semoga!