Fesyen Indonesia: dari Tradisional dan Culture ke Street, Casual, Sport dan Denim Wear

IMG_8843

Patrice Desilles, Academic Program Coordinator ESMOD Jakarta

IMG_8850

Patrice Desilles, Academic Program Coordinator ESMOD Jakarta

4 Juni 2013. Hari masih pagi. Jalanan di Jakarta belum terlalu sibuk. Untuk sementara saya terbebas dari kemacetan saat bergegas menuju jalan Asem Dua, No. 3-5, Jakarta Selatan. Pagi itu ada yang hendak saya temui di sana. Namanya Patrice Desilles, Academic Program Coordinator ESMOD Jakarta.

Undangan pertemuan ini luar biasa. Berawal dari keinginan saya untuk mengambil gambar di acara Esmod Festival, disambut dengan undangan pertemuan. Hal yang tak biasa.

Setelah kami berbincang soal foto-foto street style yang saya publikasikan di blog dan menyimak penjelasan Patrice seputar Esmod Festival, pembicaraan kami dilanjutkan ke Fouchet’ Cafe. Di sini pula saya bertemu dan berkenalan dengan Guillaume Oger, salah seorang pengajar disain fesyen Esmod Jakarta.

Berbicara tentang fesyen Indonesia, Patrice mengatakan bahwa dalam rentang waktu 11 tahun kebelakang dunia fesyen Indonesia untuk sebagian besar (70%) masih bersifat tradisional dan culture. Tetapi itu pun sebatas memanfaatkan materialnya. Artinya, lebih ke upaya mengkreasi kain tradisional. Sementara volume, line, dan detilnya begitu-begitu saja, dan terlalu heavy. Itu dapat dilihat dari unsur warna, detil, mengandung banyak kristal, purl (rajutan dgn kaitan-kaitan yg terbalik), dan banyak lipatan. Baru dalam rentang waktu tiga tahun ini mulai menunjukkan perubahan. Sekitar  30% fesyen Indonesia lebih ke street, casual, sedikit sport wear dan denim wear. Di waktu mendatang tradisional dan culture akan berkurang. Kalaupun ada, akan mengarah pada upaya pengembangan kainnya dan mengurangi unsur dekoratif, kata Patrice.

Kain tradisional yang tersebar di Indonesia harus tetap dipegang dan terus dikembangkan, kata dia. Para disainer harus berpikir untuk mengembangkannya lebih lanjut. Kain tenun misalnya dibuat dengan warna baru, dipadu dengan jenis kain lain, seperti denim atau wol. Perlu usaha untuk menyeimbangkan unsur tradisional dengan actual look. Sehingga bisa dipakai tidak hanya sebatas untuk menghadiri acara-acara resmi.

Patrice pun menyinggung soal batik. Salah satu kain yang belakangan mendapat banyak perhatian, bahkan dari mancanagara. Menurutnya, batik itu menarik. Tetapi masalahnya, batik itu selalu sama motifnya. Sampai sekarang—meski ada beberapa (tidak banyak)—motif dan warnanya selalu sama, meski ada usaha dari beberapa orang untuk melakukan sesuatu yang baru—warna, motif, dan kain. Tidak lagi terbatas pada sutra atau katun. Apalagi untuk jaman sekarang. Kita memiliki teknologi baru. Batik bisa dituangkan ke denim, plastik, dan lain-lain.

Masih tentang batik, berikut pernyataan Patrice yang juga penting untuk dicatat:

In Indonesia, everyone talk about batik… batik… batik…. We have to make it better… better… better…. So why this product for men’s wear never change? Why the designers don’t propose a new shape of kemeja, or tshirt. Because tshirt is everywhere. Everyone wear tshirt. And now, so why  we don’t try to develop tshirt with batik? Wear of all everyday, not only friday, not only occasion.”

Anda punya pendapat lain?



Comments are closed.