Desa yang Saya Dengar, Lihat dan Rasakan

Budiman Sudjatmiko bersiul di Twitter: “Film Sang Penari & Laskar Pelangi adlh representasi terindah ttg sejarah & desa2 Indonesia”. Saya tidak memahami apa yang dia maksud “representasi terindah tentang sejarah dan desa-desa di Indonesia”.

Saya mencoba mengingat-ingat kembali film Laskar Pelangi yang saya tonton bareng tiga ponakan. Sambil terus menelisik memori pembicaraan dengan Ahmad Tohari (penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk yang mendasari film Sang Penari) beberapa tahun lalu di Banyumas. Ah, tetap tak bisa menemukan apa yang dimaksud “representasi terindah” itu.

Bagi saya, desa secara empiris maupun teoretis adalah belantara sosial yang sangat dinamis dan tidak mudah disimpulkan. Jika dibahas serius akan sangat panjang. Sepengetahuan saya, sampai saat inipun perdebatan teoretis soal desa di Indonesia tak pernah kelar. Tentang sejarah desa Jawa saja, ilmuwan sosial berdebat kencang. Selain itu, desa identik dengan Jawa. Di luar Jawa tidak dikenal konsep desa seperti desanya Jawa.

Saya tidak akan memperpanjang dulu soal “representasi terindah” yang dimaksud Budiman. Mudah-mudahan ada kesempatan mendiskusikannya langsung. Sekaligus membongkar konstruksi gagasannya tentang “otonomi desa” yang sempat membuat kening saya berkerut. Itu pun harus dikonfirmasi karena saya hanya mendengar pilahan-pilahan kisahnya dari lingkungan orang-orang yang bekerja di wilayah otomomi daerah.

Kisah desa yang saya kenal pertama kali di bangku sekolah dasar. Sumber utamanya paparan guru dan narasi buku. Tampak indah. Penuh pesona. Tugas pelajaran bahasa Indonesia selepas liburan adalah menulis pengalaman berkunjung ke desa nenek dan kakek tinggal. Sungai mengalir, sawah menguning, kerbau, ramah-tamah, gotong-royong dan kisah romantisme kehidupan penuh harmoni jadi semacam default kisah desa di sekolah. Hampir semua anak menuliskan itu. Apa yang tampak di mata, itulah kenyataan desa.

Begitukah? Samasekali tidak. Sepanjang perjalanan saya mengunjungi desa untuk penelitian (1996-2005) indahnya desa secara sosial adalah kamuflase. Udara pedesaan mungkin lebih bersih dibanding udara Jakarta. Tapi realitas sosial, adalah realitas kehidupan. Realitas kompetisi, realitas siapa mendapatkan apa dengan cara apa. Realitas berebut sumberdaya.

Jika kita hanya berkunjung ke desa beberapa saat tanpa menelisik keseharian dan dinamika sosialnya, desa adalah hamparan sawah menguning dan hembusan angin sepoi-sepoi yang melenakan. Tapi coba sempatkan waktu berbagi kisah dengan para penghuninya secara terbuka dan lebih dalam. Keindahan itu akan berubah menjadi buram. Menjadi lilitan persoalan yang saya sendiri tidak tahu bagaimana mengurainya kecuali ada perubahan politik mendasar di Indonesia.

Desa yang saya kenal dari buku sekolah dasar dan cerita-cerita gurunya jauh panggang dari api. Kisah kehidupan desa seperti yang disisi-sisipkan dalam Penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) adalah mimpi. Desa yang saya baca dari hasil kajian para Indonesianist, dan desa yang saya temui selama bekerja sebagai peneliti adalah realitas periferi.

 



Comments are closed.