Catatan Partnerku dari IFW 2013: Menyaksikan Peragaan Busana, Menyerap Inspirasi Disainer

Nahl

Nahl, Quantum Leap

Melihat sebuah peragaan busana, buat aku bukan semata-mata melihat busana. Kalau sekedar melihat seperti apa pakaian dirancang, maka saya cukup melihat foto. Sebuah peragaan busana adalah pengalaman menyerap inspirasi desainer sehingga membuat saya tergugah.

Aku bukan pengamat fesyen, tidak bekerja di dunia fesyen dan juga tidak punya pendidikan khusus tentang fesyen. Sederhana saja, aku penikmat pertunjukan yang bisa menggugah hati dan membuat aku bersemangat.

Jadilah aku melihat Parade Nusantara yang menjadi bagian dari rangkaian Indonesia Fashion Week 2013 yang diselenggarakan APPMI (Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia) di Jakarta Convention Center pada 14-17 Februari 2013. Pertujukan siang hari yang banyak diisi oleh perancang muda dan nama-nama yang masih asing buat aku. Serunya, aku datang tanpa harapan apa-apa kecuali untuk “have fun”.

Tedjo Laksono, Classic Glam

Tedjo Laksono, Classic Glam

Aku ingin melihat “warna” Parade Nusantara.

Aku dapatkan itu dari beberapa perancang melalui pakaian, model, musik pengiring serta tata cahaya panggung. Aku menikmati musik yang dipilih Anne Avantie untuk baju-baju cantiknya. Mirip dengan bagaimana aku menikmati karya Affif Syakur yang ditampilkan bersama musik yang membawa aku membayangkan cakrawala –  tema peragaannya – walaupun aku tidak terlalu terpesona dengan model pakaiannya. Menurutku tidak membuat badan pemakainya menjadi keren.

Daniel Mananta, Damn! I Love Indonesia

Daniel Mananta, Damn! I Love Indonesia

Masih soal musik. Aku penasaran dengan pengiring Indische-nya Riri Rengganis. Well, aku suka dengan beberapa pakaian dan konsep yang diusung oleh Riri yang aku tahu beberapa bulan lalu. Duh, terkenang suara penyanyi dari pertunjukan itu. Aku menduga itu suara Bonita menyanyikan lagu berbahasa Inggris dengan sedikit kata dalam bahasa Indonesia. Pas!

Sebaliknya, aku tidak terlalu mendapat kaitan antara tema Forbidden, lagu fever dan rancangan Tertua End. Atau, seandainya ada lebih banyak yang memakai topi dalam karya Tedjo Laksono tampaknya makin solid saja rancangan bertema Classic Glam dan musik pengiringnya.

Damn I Love Indonesia!

Sandryant, @IamUnivit

Paling seru memang mendengar Rasa Sayange dalam Toraja Melo. I do get inspired just like its theme. Suka warna, model dan seluruh “vibe” yang dikirimkan. Rasanya koleksinya kurang banyak untuk dinikmati. Bisa jadi karena memang aku dalam “mood” untuk mengenal negeri ini. Tentu saja tidak semata-mata kain tradisional.

Secara umum, aku memang terpikat dengan rancangan yang mempergunakan kain dengan teknik tradisional khas Indonesia. Nuansa biru dari Putu Aliki yang memakai kain Bali sungguh menarik. Pinawetengan Minahasa yang dirancang oleh Tomas Sigar punya warna yang membuat aku – tidak berlebihan – bahagia. Tidak heran kalau aku menikmati Uke Toegimi dengan Moven Movement. Satu yang khusus membuat aku berharap memakai kacamataku saat itu dan bisa memotret lebih dekat adalah Borneo Beat-nya Novita Yunus. Di rumah, ada beberapa sarung Kalimantan. Aku jatuh hati pada warnanya yang berani. Novita Yunus membuat aku ingin mencoba beberapa hal dengan sarung tersebut tanpa terasa terlalu “tradisional” dan tetap “neat”.

Kerapian dan kejelian membuat tema tradisional menjadi lebih segar adalah ide Dessy Natalia. Rancangannya dipakai para model yang bergerak mengikut suara Niki Minaj dalam tema Young Java. Martha Ellen dengan A New Line in Ikat membuat aku berharap bisa melihat lebih dekat dan membeli beberapa koleksinya. Aku berharap aku sekurus model-model Marisa dengan tema The Beauty of Java.

Rancangan yang ingin aku bawa pulang adalah rancangan Nahl. Mengusung tema Quantum Leap. Pakaian tersebut terlihat “well-cut”. Aku suka dengan kesedehanaannya serta koleksi yang tampak “timeless”. Yup, ujung-ujungnya beberapa rancangan yang keluar begitu sederhana yang membuat aku ingin sekali membelinya. Koleksi Devi Angeylna bersih, simpel tetapi juga tetap berani. Kombinasi dua warna yang dibuat sedemikian rupa tanpa harus banyak pernak pernik. Seandainya saja dia bisa datang dengan tema yang tidak terlalu “lame” seperti 2 Sides in 1 Harmony.

Duduk menikmat peragaan busana ini membuat aku suka berpikir. Apa yang ada di benak para model ketika berjalan di catwalk? Ada yang berjalan memukau penuh percaya diri, membuat baju tampak begitu indah. Tetapi, ada muka-muka yang penuh ketegangan dan bahkan tampak kesakitan. Dugaanku, sih bukan masalah baju, tapi sepatu super tinggi yang membuat aku mengernyitkan kening membayangkan memakainya. Aku pecinta high-heels. Tetapi sebagian model sepatu di beberapa koleksi lebih seru untuk dilihat saja.

Model tampak lebih bersenang-senang terutama di Unifit dan tentu saja Damn I Love Indonesia!­-nya Daniel Mananta. Menyenangkan melihat kesegaran pertunjukan yang ditampilkan. Rileks dan punya karya yang dituangkan dalam pakaian sehari-hari.

Aku sih senang dan puas saja. Buat aku, mirip dengan melihat konser musik, menikmati lukisan di museum, menonton teater. Peragaan busana ini adalah soal bagaimana aku tergugah. Aku berharap terinspirasi dari berbagai warna parade nusantara, and I did.

Keterangan: Tulisan ini adalah sumbangan dari Mellyana Frederika. Foto: Sadikin Gani.



Comments are closed.