Bung A, Monopod, dan Model

By , in Jurnal on . Tagged width: , , ,

pit

Halte Dukuh Atas I. Kurang lebih pukul 22.30 WIB. Saya berdiri di barisan deretan pertama antrian penumpang bis Trans Jakarta. Di belakang saya ada tiga baris. Sama-sama menunggu bis tujuan Ragunan.

“Ya…, menipu!” gerutu seorang lelaki di deretan antrian kedua paling kanan. Sebut saja bung A. Dia kecewa karena bis yang datang dengan kecepatan lambat itu ternyata tak berhenti menarik penumpang.

Saya menoleh ke arahnya sambil memindahkan monopod dari tangan kiri ke atas tutup camera shoulder bag yang saya dekap di perut.

Bung A tampaknya penasaran dengan benda berwarna hitam sepanjang dua jengkal tangan itu. Awalnya hanya melirik. Tak sampai satu menit kepalanya maju ke depan. Mencermati tiang penopang kamera itu.

“Itu apa, mas?” tanya dia.

Monopod,” kata saya sambil menoleh ke arahnya.

“Maksudnya?”

“Penopang kamera saat motret,” jawab saya singkat sederhana.

Oh…” Kepala dia ditarik lagi ke belakang.

Sesaat sunyi. Tak lama kemudian kepala bung A maju lagi ke depan. “Itu makenya gimana?” Tambah penasaran rupanya.

“Begini…” Saya menegakkan monopod, memutar skrup step pertama, dan menariknya hingga panjangnya bertambah satu step. Saya tunjukkan juga di mana kamera diletakkan.

Oh, gitu…” Dia manggut-manggut. Lalu, “Kenapa gak pake tripod?”

“Repot dan makan tempat banyak,” kata saya.

“Mas dari media? Abis motret apa?” Si bung A semakin ingin tahu.

Saya mengangguk. “Motret fashion show.”

Kali ini mukanya berubah berbinar-binar. Lalu tersenyum. “Wah, liat yang cantik-cantik terus dong,” katanya masih senyum-senyum.

Saya pun membalasnya dengan senyuman.

“Iya, ‘kan?!” Dia tak puas dengan jawaban tanpa kata-kata.

Kalo iya, memangnya kenapa? “So what,” kata saya dalam hati meniru ungkapan yang biasa dilontarkan kalangan menengah dan anak-anak muda perkotaan.

“Pastinya enak ya ketemu sama model-model cantik terus.” Dia mendesak.

Lagi-lagi saya tanggapi dengan senyuman.

Mas, model itu angkuh-angkuh gak sih?” tanyanya. Tampaknya dia sedang melakukan verifikasi atas anggapannya sendiri.

“Setahu saya tidak. Mereka baik dan bersahabat menghadapi orang.”

Oya?! Humble?”

“Dari yang saya kenal, paling tidak, ya, humble.”

Dia manggut-manggut lagi meski wajah tak begitu yakin atas jawaban saya terlihat jelas.

“Tapi, mas, sering-sering ketemu model yang cantik itu gimana tuh pengalamannya?”

Duh! Balik lagi ke isu cantik dan cantik, pikir saya. Pertanyaan dia pun mulai sulit difahami ke mana arahnya.

“Saya melihatnya secara profesional. Gak gimana-gimana,” pungkas saya.

“Hehehe….,” dia tersenyum entah dalam rangka memaknai apa.

Obrolan terhenti saat bis datang. Kami pun bergegas menaikinya.

***