Bergerak ke Level eCommerce Berikutnya

Jumlah pengguna internet di Indonesia terus meningkat. Dalam dunia perdagangan (jual/beli barang dan jasa) gejala tersebut membawa perubahan pada cara pandang dan perilaku aktor-aktor utama perdagangan (penjual dan pembeli). Penjual semakin memandang penting peran internet untuk meningkatkan penjualan dan perluasan pasar; sementara pembeli mulai memanfaatkannya untuk memperoleh barang yang dibutuhkan secara mudah dan cepat, tidak terbatas ruang dan waktu. Fleksibilitas dan keluasan internet pun telah mendorong terjadinya percepatan, efisiensi dan perluasan relasi bisnis (B2B, B2C, C2C).

Sinergis dengan itu berkembang usaha penyedia jasa di bidang eCommerce/eBusiness dan internet marketing, mulai dari konsultan dan pengembang perangkat lunak, penyedia server hosting, payment gateway, konsultan SEO (Search Engine Oprimization), hingga konsultan kampenye media sosial dan email marketing. Mereka yang bergerak di bidang-bidang tersebut berperan sebagai pendukung para pengusaha dalam menembus persaingan, peningkatan penjualan dan perluasan pasar.

Penyedia jasa di bidang eCommerce dapat dipilah menjadi dua kelompok: inti dan pendukung. Kelompok inti terdiri dari konsultan dan pengembang perangkat lunak eCommerce dan internet marketing, penyedia jasa penyewaan server hosting (yang mendukung/memenuhi syarat beroperasinya perangkat lunak eCommerce dengan baik), dan perusahaan-perusahaan eCommerce di setiap level relasi bisnis (B2B, B2C, C2C) yang berperan sebagai pihak ketiga.

Kelompok pendukung adalah pihak-pihak yang memberi layanan produk maupun jasa dalam berbagai aspek pendukung keberhasilan dan beroperasinya eCommerce dengan baik. Diantaranya adalah penyedia layanan payment gateway, SEO, email marketing, disain kreatif (social page builder, landing page), fotografi (produk dan lookbook dan sebagainya), online advertising agency (logo, banner, motion dan sebagainya), kampanye media sosial, live support/chat provider, online survey, dan lain-lain.

Tulisan ini membahas secara singkat perkembangan eCommerce dan aspek-aspek pendukungnya. Uraian dimulai dengan membahas secara singkat perkembangan eCommerce di Indonesia (jenis dan model yang ada saat ini) dalam berbagai skala bisnis. Tinjauan akan dilakukan pada dua kelompok pelaku bisnis eCommerce (inti dan pendukung).

***

Dibanding pertumbuhan pengguna internet, perkembangan eCommerce di Indonesia masih rendah. Tertinggal oleh negara-negara seperti Singapura dan Vietnam. Apalagi negara-negara maju. Geliat eCommerce di Indonesia kurang lebih baru dimulai pada 2005 dan kian marak pada 2010. IDC mencatat pada 2009 perdagangan lewat internet di Indonesia mencapai sekitar USD 3,4 miliar atau setara dengan Rp 35 triliun. Sedangkan untuk skala dunia, potensi eCommerce pada 2010 mencapai USD 172,9 miliar (Detik.com).

Meski agak terlambat dibanding negara-negara lain yang kondisi sosial-ekonominya kurang lebih sama dengan Indonesia, perkembangan tersebut sudah mulai ditanggapi oleh para penguasaha Indonesia. Kesadaran produsen dan para penjual eceran untuk memperdagangkan produknya melalui internet mulai tumbuh. Ada yang memilih membangun toko online sendiri; ada yang hanya bergabung menjadi anggota portal belanja, seperti Toko Bagus, Rakuten, Juale dan lain-lain; dan ada pula yang menjalani keduanya.

Menurut Badan Pusat Statistik saat ini ada 75 ribu UKM yang sudah memiliki website sendiri. Meski angka itu masih sangat kecil dibandingkan jumlah total UKM di Indonesia yang mencapai 17 juta, justru telah menarik minat investor dalam dan luar negeri menggarap eCommerce di Indonesia. Ebay dan Google, dua perusahaan raksasa kini sudah memasuki Indonesia. Google misalnya, meluncurkan program Go Online untuk UKM Indonesia.

Sebelum Google para pebisnis dalam dan luar negeri sudah menanggapi potensi eCommerce Indonesia dengan membangun portal-poral belanja model listing dan daily deals. Kini bahkan sudah muncul agragator daily deals/groupon dan toko online. Contohnya Deal Going. Bagi kalangan UKM yang sudah melek internet, kehadiran portal-portal eCommerce seperti Toko Bagus, Rakuten, Tokopedia, Juale, Blibli dan lain-lain cukup menguntungkan. Selain efisien, pengelolaannya relatif lebih mudah dibanding bila membangun dan mengelola toko online sendiri. Dan jika targetnya adalah peningkatan omset penjualan produk, kehadiran portal belanja seperti Toko Bagus relatif sudah cukup membantu.

Namun demikian, di masa mendatang, di saat masyarakat semakin terbiasa berbelanja online dan pengetahuan mereka tentang eCommerce semakin luas, tuntutan atas eCommerce pun akan terus meningkat dalam berbagai aspek. Jika saat ini para pedagang dan pembeli sudah merasa puas memanfaatkan fasilitas yang disediakan Toko Bagus atau Rakuten misalnya, ke depan tidak demikian. Para produsen yang menginginkan produknya naik kelas akan sangat skeptis. Mereka tidak akan menjual produknya melalui portal eCommerce yang menjual aneka barang dengan kualitas dan merek yang sangat beragam. Atau setidaknya hanya memanfaatkan agregator toko online sebagai langkah pemasaran sekunder.

Demikian juga dengan pembeli. Pembeli kritis yang memiliki cukup referensi tentang eCommerce akan skeptis. Tidak hanya pada barang yang hendak dibelinya, juga pada kredibilitas penjual barangnnya. Mereka akan menilai kredibilitas suatu produk dari banyak aspek. Logika sederhananya, orang yang mencari tas Tods atau LV original tidak akan mengunjungi mal Ambassador atau ke pasar Tanah Abang. Sebaliknya, penjual produk tiruan yang tersebar di Tanah Abang tidak akan membuka lapak di mal Senayan City atau Plaza Indonesia.

Di era eCommerce yang lebih maju, skeptisitas dengan sendirinya akan tumbuh di kalangan pembeli maupun penjual, produsen maupun konsumen. Pada titik itulah baik pedagang maupun pengembang eCommerce dituntut mampu meningkatkan kapasitas dan kualitas untuk menanggapi perkembangan yang suka atau tidak, lambat atau cepat akan datang.

Dibanding pengusaha eCommerce yang bergerak dalam jasa penyediaan sarana jual beli (model portal maupun listing), para penyedia jasa pengembangan toko online dengan platform eCommerce yang baik masih sangat sedikit. Kebanyakan mereka yang membuka usaha pembuatan toko online tidak memiliki perhatian utama pada eCommerce-nya itu sendiri. Fokus layanan mereka adalah penyewaan hosting. Jasa pembuatan toko online yang ditawarkan dengan harga rendah hanya pemancing untuk penyewaan hosting. Para pedagang yang memanfaatkan penawaran seperti itu sangat banyak, karena biayanya rendah.

Saat ini jika kita berniat membuat toko online dengan biaya rendah dan cepat tidak mustahil. Buka toko online di Multiply atau bikin katalog di Facebook, atau buka lapak di Toko Bagus dan Kaskus. Bisa juga menyewa hosting plus pembuatan toko online. Biayanya berkisar antara 300 ribu – 1 juta rupiah per tahun, tergantung dari kapasitas hosting yang disewa. Bisa juga menempuh jalan dengan menyewa toko online di portal belanja. Juale menawarkan penyewaan mulai dari 1 juta sampai 5 juta rupiah per tahun. Rakuten menawarkan 1,5 juta sampai 6 juta rupiah per bulan. Sementara Google yang bermodal raksasa mampu memberi tawaran 120 ribu rupiah per tahun.

Cara-cara seperti itu paling banyak ditempuh para produsen dan pedagang eceran di Indonesia, khususnya kalangan UKM. “Murah dan mudah”, kata kuncinya. Sebagai langkah awal, perkembangan tersebut bagus. Setidaknya orang mulai melek dengan kekuatan internet dan eCommerce. Namun, kondisi seperti itu tidak bisa dipertahankan terus jika kita mengikuti perkembangan wawasan pengguna internet ke depan.

Setiap pengusaha eCommerce, produsen maupun bukan mau tidak mau akan berhadapan dengan pembeli kritis dan skeptis dalam banyak aspek. Sikap kritis dan skeptis itu akan dimulai sejak pengguna internet membuka halaman pertama toko online. Jika dari halaman pertama saja sudah tidak dapat membangun kepercayaan publik, bagaimana orang bisa melangkah lanjut pada pembelian, dan kemudian berlangganan. Terlebih lagi di dunia internet, dimana kredibilitas dan terbangunnya kepercayaan antarpihak yang berlelasi adalah utama.

Itu belum termasuk soal perangkat lunak toko online yang diterapkan. Toko online yang baik, bukan hanya dari tampilannya yang tepat, juga keunggulan perangkat lunak yang digunakan dalam memenuhi kebutuhan pembeli di satu pihak, dan penjual di pihak lain. Toko online berbeda dengan website biasa seperti web profil perusahaan. Disamping harus memiliki sistem yang dapat mengatur proses bisnis, memberi nilai efisien bagi pemilik toko, juga memberi kemudahan dan kelengkapan fasilitas bertransaksi serta ruang informasi penting yang dibutuhkan para pembeli online. Foto dan informasi produk misalnya, adalah hal vital (tetapi sering diabaikan) dalam toko online, karena pembeli tidak bisa melihat langsung barang yang akan dibelinya. Contoh baik toko online di Indonesia adalah Bhinneka.com. Selain tampilannya bagus, juga fasilitas dan perangkat lunak eCommerce-nya memiliki berbagai aplikasi yang berguna dan dibutuhkan calon pembeli. Diantaranya adalah aplikasi perhitungan pembelian secara kredit dan informasi produk yang relatif lengkap.

Para produsen maupun pedagang eceran (khususnya kalangan UKM) yang hendak meluaskan bisnisnya melalui eCommerce umumnya lebih memfokuskan perhatian pada bagaimana toko onlinenya masuk di halaman utama mesin pencari. Isu penting seperti kualitas dan fitur perangkat lunak eCommerce, server yang memenuhi syarat penerapan eCommerce, tampilan yang tepat dan sesuai dengan produk yang dijual, marketing online yang baik, proses bisnis, foto produk, promosi online dan offline, layanan pelanggan, konsekuensi dan tuntutan pengelolaan toko online, serta hal-hal yang ada di backend (teknis maupun non-teknis) tidak pernah diperhatikan sungguh-sungguh, bahkan sama sekali tidak terpikirkan. Faktor utamanya adalah ketidaktahuan, dan menganggap pengelolaan toko online sama dengan membuat blog pribadi yang dikelola secara manasuka. Pengetahuan untuk memersiapkan dan konsekuensi yang harus dihadapi setelah menjalankan toko online tidak banyak dimiliki oleh mereka yang berniat memasuki dunia eCommerce.

Pendapat yang mengatakan bahwa toko online itu murah dan mudah adalah tidak benar bila kita meninjaunya secara komprehensif. Biaya untuk mengembangkan toko online mungkin tidak setinggi membangun toko konvensional. Tetapi, salah besar jika membangun toko online yang baik hanya membutuhkan modal 1 juta rupiah. Untuk pengembangan toko online standar dengan kualitas baik sedikitnya membutuhkan biaya 35 juta rupiah, diluar biaya hosting dan domain.

Toko online adalah tool proses bisnis yang memiliki aturan dan ketentuan baku. Proses pengoperasiannya menyangkut aktivitas online sekaligus offline. Jika di satu tahapan prosesnya mengalami kemacetan, maka akan mengakibatkan kemacetan pada tahapan berikutnya. Hal seperti itu luput dari perhatian dan wawasan kebanyakan mereka yang mau mengembangkan usahanya melalui eCommerce.

Pihak-pihak (swasta maupun administratur negara) yang mendorong dan memfasilitasi pengusaha Indonesia meluaskan bisnisnya ke domain online tampaknya belum ada yang memberi wawasan komprehensif perihal apa dan bagaimana menjalankan eCommerce yang baik dan berkualitas. Hasilnya sudah bisa ditebak, menjadi serba nanggung, karena hanya berfokus pada upaya meningkatkan jumlah penjualan dan perluasan pasar. Aspek bagaimana membangun brand sebuah produk atau jasa melalui eCommerce tak tersentuh sama sekali.

Kenyataan ini semakin tampak tertinggal jika kita mengikuti perkembangan eCommerce yang berbasis di negara-negara maju seperti Inggris dan Amerika Serikat. Produsen pakaian dan toko-toko online besar seperti Net A Porter, Asos, Hermes, DKNY, Gucci, Urban Out Fitter, Esprit dan lain-lain, selain mengembangkan toko online profesional, mereka melengkapinya dengan kanal majalah online, media sosial, aplikasi web interaktif untuk pelanggan, dan membangun jaringan fashion bloggers. Tujuannya untuk promosi dan meningkatkan penjualan.

Di Indonesia, cara berpikir penguasaha-pengusaha baru, khususnya produsen di bidang fashion yang menjalankan usahanya langsung melalui media online sedikit lebih maju dibanding pengusaha-pengusaha yang berangkat dari model usaha konvensional (offline). Wawasan dan referensinya tentang eCommerce jauh lebih luas. Rujukannya eCommerce yang dijalankan merek-merek besar dunia atau retail besar seperti Net A Porter, Asos dan Shop Bop.

Namun demikian, kesadaran untuk mengembangkan eCommerce yang berkualitas terkendala oleh biaya pengembangan dan aspek pendukungnya, terutama biaya pemasaran internet yang relatif tinggi. Padahal kesadaran mereka tentang eCommerce bukan hanya sebagai tool jual beli, melainkan menjadi media untuk membangun citra produknya.

Cara menyiasati kendala tersebut umumnya dimulai dengan membuat web gratis di Blogspot atau Multiply. Cotton Ink salah satu contohnya. Mereka baru meluncurkan toko online profesional kemudian. Langkah seperti itu realistis, namun membutuhkan jeda waktu untuk melangkah ke tahapan eCommerce profesional. Belum ada perusahaan penyedia jasa pengembangan eCommerce yang memberi layanan untuk mengakselerasi pengusaha-pengusaha baru memasuki eCommerce secara profesional dengan biaya terjangkau. Saat ini pilihan yang bisa diambil baru dalam bentuk layanan sewa toko online seperti yang ditawarkan Juale dan Rakuten. Bisa juga bergabung dengan portal belanja online model listing atau daily deals. Namun, bagi penguasaha-pengusaha yang memiliki target membangun citra produknya (bukan semata-mata mengejar kuantitas penjualan), tampaknya jasa yang ditawarkan portal belanja semacam itu kurang diminati, karena dianggap tidak bisa memenuhi kebutuhan membangun citra produk.

Berdasarkan uraian singkat di atas, kiranya perlu dikembangkan sebuah layanan komprehensif untuk memenuhi kebutuhan eCommerce yang berkualitas dengan biaya terjangkau. Layanan tidak hanya menyangkut penerapan teknologi eCommerce (perangkat lunak) dan infrastrukturnya (server), juga konsultasi aspek-aspek pendukungnya, teknis dan non-teknis. Layanan yang ditawarkan mencakup (1) penerapan dan pengembangan perangkat lunak eCommerce yang berkualitas, efisien dan user friendly; (2). disain toko online profesional unik untuk setiap pengguna jasa; (3) penyediaan server yang memenuhi syarat untuk pengoperasian eCommerce secara memadai dan aman; (4) pendampingan proses bisnis eCommerce (frontend dan backend, teknis dan non-teknis); dan (5) internet marketing yang baik.

Untuk meningkatkan nilai jual layanan, perlu dibangun portal review sebagai sarana promosi bagi setiap pemilik toko online. Konten utamanya adalah review dan editorial/advertorial. Portal yang dibangun sebaiknya tidak multikategori jenis barang seperti web listing, melainkan satu jenis. Kalaupun digabungkan, bukan model listing, tetapi multisite. Setiap jenis barang memiliki kanal tersendiri.

Bergerak ke level eCommerce berikutnya…”, begitulah kira-kira slogan untuk mengajak para penguasaha yang sudah terjun ke bisnis online dan mereka yang baru memulai untuk melangkah ke level eCommerce yang lebih baik dan maju.

***

Kritik dan saran bisa disampaikan melalui form komentar di bawah, maupun via email ke sadikin@melsamedia.com

Related Posts: