Bayi Prematur itu bernama “Bandung Coffee Directory Vol 1”

By , in Jurnal on . Tagged width: , , , , ,

Selang beberapa hari lalu pasangan saya mengirim tautan sebuah informasi tentang peluncuran buku “Bandung Coffee Directory Vol 1” di Hutan Kota Babakan Siliwangi, Bandung. Menarik, pikir saya, menyambut girang. Karena itu, meski tak bisa hadir, kami mengupayakan untuk mendapatkan bukunya. Singkat cerita, si adiklah yang kami minta datang dan membeli bukunya.

Jika dilihat semata-mata dari fungsi dan kegunaannya, kami tak butuh-butuh amat dengan direktori (kedai) kopi di Bandung. Dengan memanfaatkan mesin pencarian, jangankan Bandung, kedai kopi yang tersebar di pelosok dunia pun bisa kita telusuri lewat internet. Lalu? Kehendak untuk mengapresiasilah yang mendorong kami, selain tentu saja ada harapan besar untuk mendapatkan informasi segar seputar geliat perkopian di Bandung yang berbeda dengan informasi kebanyakan. Pan cenah urang Bandung kreatif lain?!

Alasan lain, kehadiran buku “Bandung Coffee Directory” seperti memberi angin segar mengingat begitu jarangnya buku seputar kopi yang terbit di Indonesia. Dari sekitar 100 judul buku (versi kindle) tentang kopi yang kami miliki—mulai dari sejarah kopi, kopi dan kolonialisme, industri kopi dan kapitalisme, budaya kopi, kopi dan politik, intelektual, produksi kopi, kopi dan agroekologi, hingga buku mengelola coffee shop dan resep bagaimana menyeduh kopi—semuanya terbitan asing berbahasa Inggris. Itu sebabnya, ketika tahu harga “Bandung Coffee Directory Vol 1” tidak murah (Rp 250.000), kami abaikan dan tetap membeli bukunya.

Dengan asumsi bahwa anak-anak muda Bandung itu kreatif, inovatif dan selalu punya inisiatif berbuat sesuatu, harapan saya pun cukup tinggi. Membayangkan buku “Bandung Coffee Directory” sejajar “Kyoto Café” (2017) atau “Where to Drink Coffee” (2017) dengan kualitas fisik setara “Grounded: The Fundamental of Brewing a Delicious Cup of Coffee” (2016) dan narasi sekuat “New York City Coffee: A Caffeinated History” (2017).

Sungguh disayangkan, apa yang saya bayangkan tak bertemu kenyataan. Dari hal yang paling mudah dicermati: kualitas fisik bukunya ringkih dengan sampul belakang bergelombang, padahal buku baru. Seriusan ini teh?! Saya membolak-balik bukunya. Tali pengikat yang menyatukan setiap halaman buku pun digarap sekadarnya. Begitu pun dengan kertasnya. Saya tidak yakin halaman-halamannya akan bertahan lama jika sering dibuka. Cetakan judul buku pecah-pecah dengan warna pudar/belel. Mendapatkan kualitas fisik buku seperti itu, pertayaan saya: ini buku jadi atau dummy?!

Masuk ke bagian isi. Diawali dengan Coffee Facts. Tidak ada informasi baru. Seandainya saja gambar ilustrasinya tidak ngasal, mungkin bisa menutupi kekurangannya.

Memasuki bagian isi Bandung Coffee Directory, ada 20 kedai kopi yang ditampilkan. Di sini sedikitnya ada empat hal yang bisa saya catat.

Pertama, dari sisi isi, meski pahit mengatakannya: klise dan dangkal, karena sang penulis tidak berhasil merumuskan proposisi nilai yang menjadi keunggulannya dibanding buku sejenis. Informasi setiap kedai kopi yang ditampilkan sama saja dengan tulisan-tulisan yang banyak bertebaran di media review, seperti “10 Coffee Shop Yang Harus kamu Kunjungi di…” atau “5 Kedai Kopi paling Hits di…”, dan tulisan-tulisan serupa itu, yang tak mudah diamini oleh para pembaca skeptis dan konsumen cerdas pecandu kopi.

Kedua, dengan membawa bendera third wave coffee shop, pemilihan kedai kopi seharusnya dibuat ekstra ketat. Karena menggolongkan sebuah kedai kopi sebagai the third wave coffee shop tidak bisa didasarkan pada klaim pemiliknya, atau penilaian sekilas, atau atas dasar pertemanan, misalnya. Urusannya sudah menyangkut rantai pasokan hulu ke hilir yang melibatkan kerja keras banyak orang. Salah satunya isu pentingnya adalah apakah pekerjanya sudah dibayar sesuai ketentuan upah minimum yang berlaku?

Ketiga, sebagai direktori yang ditujukan menjadi alat navigasi tempat ngopi, ketepatan data adalah utama. Tetapi, kembali saya kecewa, salah satu kedai kopi yang sepengetahuan saya (semoga tidak keliru) sejak Juli 2018 tutup permanen masih ditampilkan sebagai kedai kopi layak dikunjungi. “You can enjoy atmosphere like coffee shop on the street in London or New York here… Visit SF Roastery in…”  ajak sang penulis di halaman 62 tanpa melakukan check and recheck. Ini jelas kesalahan fatal!

Keempat, haruskah buku ini ditulis dalam bahasa Inggris di tengah-tengah kelangkaan buku perkopian berbahasa Indonesia? Atau mungkin buku ini memang ditujukan untuk orang asing yang tak paham bahasa Indonesia? Jika ya, maka tantangannya semakin besar, karena orang asing kemungkinan besar memiliki buku-buku pembanding sejenis yang kualitasnya jauh lebih baik dalam banyak sisi. Karena itu, tidak berlebihan kiranya bila saya katakan buku “Bandung Coffee Directory Vol 1” perlu dibenahi dengan tanda seru cetak tebal. Para penulis dan editornya perlu merumuskan kembali proposisi nilai yang ditawarkan dan menerjemahkannya dengan akurat, sehingga buku ini benar-benar layak terbit, pantas dibaca, dan sepadan dengan harganya

Sebagai catatan akhir, saya tetap mengapresiasi usaha kawan-kawan Bandung menerbitkan “Bandung Coffee Directory Vol 1”. Dan bila saja dibutuhkan, dengan senang hati akan membantu. “Piraku we ku kuring teu didukung jeung teu dibantu mah, da keur kamajuan sarerea, lain?!

Semoga bermanfaat.